19.01.2006
PROFIL Drs. Zaharah Ramli Aris - Demi Prestasi Anak Didiknya, Ia Rela Mengeluarkan Dana Pribadi
Berbicara tentang olimpiade sains nasional, kita tidak dapat melepaskannya dari pengalaman tahun 1993, yaitu ketika untuk pertama kalinya Indonesia ikut berpartisipasi dalam International Physics Olympiad (IPhO) XXIV yang diselenggarakan di Virginia, Amerika Serikat. Adalah sosok Zaharah Ramli Aris, seorang guru pendamping yang menjadi bagian dari kontingen Indonesia. Zaharah adalah guru pendamping dari Oky Gunawan, siswa SMAN 78 Jakarta yang ketika itu berhasil meraih medali perak dan mengawali tradisi perolehan medali Tim Olimpiade Fisika Indonesia dalam Olimpiade Fisika Internasional. “Tahun 1993, pertama kali Indonesia ikut olimpiade fisika di Universitas Virginia, dimana waktu itu Yohannes Surya dan Agus Ananda menjadi panitia di sana. Kami diundang oleh mereka melalui surat yang ditujukan kepada beberapa SMA di Indonesia,” kenangnya.

Menurut Zaharah, pada tahun-tahun awal keikutsertaan Indonesia dalam olimpiade internasional, perhatian sekolah maupun pemerintah terhadap olimpiade belum seperti sekarang ini. “Ketika itu saya membawa sendiri anak didik saya ke ITB untuk dibantu oleh alumni SMAN 78 yang memberikan bimbingan khusus soal-soal olimpiade. Salah satu yang lolos ya Oky Gunawan itu yang kemudian dibina oleh Yohannes Surya,” kisah guru yang menjadi pembimbing peserta olimpiade sejak tahun 1993 ini. “Tahun-tahun awal memang terberat. Baru tahun 2002 mulai ada perhatian dari pemerintah terutama sejak diselenggarakannya olimpiade sains nasional,” tambah Zaharah. Beliau biasa memotivasi anak didiknya agar bersemangat dalam mengikuti kompetisi, termasuk menyediakan fasilitas, dan mengarahkan mereka untuk mendapat binaan dari berbagai nara sumber. “Dibandingkan tahun-tahun awal, belakangan sudah lebih mudah dalam pembinaan olimpiade, karena sudah ada link alumni SMAN 78. Dari kelas 1 sudah ada pemilihan bakat, kemudian di kelas 2 jika mau bertanding baru ditambahkan narasumber dari mana-mana,” ujarnya.
Tidak jarang demi kenyamanan dan kesuksesan anak didiknya, Zaharah rela berkorban mengeluarkan dana pribadi untuk keperluan membimbing mereka. Dari dulu, beliau tidak terlalu mengandalkan dana komite. Alasannya karena banyak administrasi yang harus diikuti, seringkali membuat anak yang akan bertanding harus terlebih dahulu menunggu dana. “Daripada anak menunggu, seringkali saya pakai dana pribadi terlebih dahulu. Kalau diganti syukur, kalau tidak ya sudah,” ujarnya. Karena mengerjakannya dengan senang hati, beliau justru merasakan kemudahan dalam mendapatkan rezeki.
“Jika melihat anak didik kita berprestasi, segala sesuatu akan mengikuti. Pengorbanan materi tidak terlalu penting,” ungkapnya. Zaharah juga merasa bersyukur dengan talentanya sebagai guru pembina olimpiade serta kepercayaan yang selama ini diberikan kepadanya. Pada Olimpiade Sains Nasional 2005 yang diselenggarakan di Jakarta bulan September kemarin, dua anak didik Zaharah dari SMAN 78 Jakarta, yaitu Muhammad Firdaus Syawaludi (kimia) dan Musawaddah Mukhtar (fisika) berhasil meraih medali emas, serta seorang lagi (Amril Hidayat di bidang fisika) memperoleh medali perak.
Zaharah Ramli yang dilahirkan di Pangkal Pinang, mengakui bahwa pilihan profesi menjadi seorang guru tidak direncanakannya sejak kecil, tetapi jalan hiduplah yang mengarahkannya untuk memilih dan menekuni profesi mulia ini. “Ketika saya kelas 1 SMA, bapak saya meninggal. Kakak-kakak saya semuanya masih kuliah. Karena keterbatasan dana, ibu saya mengatakan bahwa jika saya ingin kuliah, harus di negeri. Kalau nggak negeri ya nggak kuliah sama sekali atau kebetulan ada yang minta, harus nikah,” kisahnya. Motivasi yang besar untuk menyelesaikan kuliah inilah yang menjadi proses pertama beliau mencintai profesi guru. “Meski sebetulnya tidak ada rencana dari awal untuk menjadi guru, tetapi begitu saya masuk kuliah, saya pikir memang beginilah jalan hidup saya. Saya tidak bisa memilih. Saya sudah ada di sini. Saya harus survive,” ujar Zaharah mengenang masa kuliahnya di IKIP Jakarta jurusan Pendidikan Fisika.
Sebelum mengawali kuliahnya, beliau telah berencana untuk memilih jurusan eksak dengan saran pertimbangan dari kakaknya. “Kakak laki-laki saya yang waktu itu sudah hampir menjadi insinyur mengatakan kepada saya, kalau mau jadi guru, jadi guru eksak saja, melihat prospek di Jakarta yang memungkinkan untuk pengembangan ada di sains. Selain itu juga karena faktor ekonomi,” ujar beliau menceritakan alasan pilihan jurusannya. Sejak duduk di bangku kuliah tingkat II, Zaharah memberikan les privat kepada beberapa siswa. Beliau berusaha untuk tidak terlalu membebani ibunya. “Waktu kecil saya biasa manja dengan 3 pembantu. Sejak kuliah di Jakarta dengan keterbatasan dana, saya harus ngelesi karena saya tidak ingin membebani ibu saya. Saya merasakan bahwa kalau kita mau bekerja keras, pasti ada jalan,” kisah Zaharah.
Zaharah mengawali karirnya sebagai seorang guru sejak tahun 1986. Sejak awal menjadi PNS hingga sekarang, beliau mengajar mata pelajaran Fisika di SMAN 78 Jakarta. Dalam mengajar, Zaharah banyak menggunakan metode diskusi dan tanya jawab ke siswa. Khusus untuk siswa yang akan mengikuti olimpiade, menurutnya yang penting siswa harus menguasai konsep dasar materi standar SMA. Jika konsep dasar telah dipahami dengan baik, maka selanjutnya akan lebih mudah untuk dikembangkan. Selama hampir 20 tahun menekuni profesinya, Zaharah juga banyak berperan sebagai motivator bagi anak didiknya. “Saya orangnya kalau mengajar selalu semangat. Kalau dari awal kita sudah memberikan motivasi kepada siswa, berikutnya sudah lebih enak. Tiap kali masuk kelas, harus disiapin dahulu, kasih motivasi 5 – 10 menit”, ujarnya.
Zaharah mengungkapkan bahwa di sekolah dia sering menemukan siswa yang sebenarnya pintar tapi kurang bersemangat jika harus berkompetisi dalam suatu perlombaan. Menurutnya dalam memotivasi anak didik harus memberikan contoh yang riil seperti dengan cara menunjukkan sosok figur yang dapat dicontoh oleh siswa. “Kalau hanya speak-speak doang, sepertinya kurang mengena. Saya kalau melatih anak, selalu saya datangkan alumni yang berprestasi. Saya minta dia menceritakan gimana perjuangannya. Mungkin itu yang bisa membuat anak-anak saya lebih ada rasa pengen maju”, ungkap Zahara. Kedekatannya dengan alumni, membuat beliau lebih mudah untuk minta tolong kepada mereka untuk datang ke sekolah memberikan motivasi kepada para siswa.
Dalam menjalani hidupnya, Zaharah merasakan bahwa kalau seseorang ingin maju, pasti tantangannya akan lebih besar, termasuk dari rekan-rekan sekerja. Oleh karena itu untuk menyikapinya harus pintar-pintar menempatkan diri. “Kita harus bisa berhati luas karena kita hidup di dunia ini pasti ada yang suka dan tak suka. Itu sudah resiko,” ujarnya. Zaharah selalu berusaha maksimal dalam mengerjakan sesuatu termasuk untuk mencapai obsesinya, yaitu menjadi muslimah yang baik dan masuk surga. “Dalam menjalani hidup, saya berusaha dan mencoba dulu maksimal. Jika ternyata saya tidak bisa, saya akan belok karena berarti ini bukan jalan saya. Saya menerima apa adanya,” ujar Zaharah.
(Ririn Utami)
12:00 Posted in GE MOZAIK Oktober 2005 | Permalink | Comments (9) | Email this | Tags: olimpiade, sains, nasional, fisika, guru, siswa, soal
15.11.2005
[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Profil Wahfir, S.Pd : Ingin Jadi PNS agar Ada Ketenangan
Berprofesi sebagai seorang guru sudah selayaknya dijalani dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan, tanpa memandang apakah guru itu berstatus sebagai PNS, guru bantu, atau guru swasta. Demikian pandangan Wahfir dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang guru (bantu). “Seorang guru memiliki tanggung jawab tidak hanya kepada kepala sekolah atau ketua yayasan, tetapi juga yang lebih utama ialah tanggung jawab kepada Yang Maha Kuasa,” ujarnya, sambil menambahkan, “Karena itu, tanpa membeda-bedakan status, setiap guru seharusnya berusaha mengajar yang terbaik menurut kemampuan.”
Wahfir, yang dilahirkan di Tegal, 6 Juni 1968, sudah mengajar di SD Pelita sejak tahun 1995, meskipun sesungguhnya sudah sejak tahun 1989 mengajar di sekolah swasta lain. Cita-citanya menjadi seorang guru mulai timbul karena ingin mengikuti jejak gurunya di SMP. “Saya kebetulan tadinya sih ingin kerja kaya orang-orang, seperti di kantor. Namun, setelah saya di SMP, berubah pikiran ingin mengikuti guru saya. Ternyata menjadi guru itu merupakan pekerjaan mulia,” ungkapnya.
“Menjadi guru cukup menyenangkan. Karena tadinya kita ingin menjadi guru berasal dari hati kita, ya walaupun mungkin banyak suka dukanya, ya kita merasa senang saja,” ujar Wahfir mengenang suka dukanya menghadapi anak-anak didiknya di sekolah.
Keinginannya menjadi guru juga dipengaruhi oleh kehidupannya sewaktu kecil. Wahfir terinspirasi oleh gurunya yang membimbing muridnya agar pandai, berprestasi. “Makanya saya berminat menjadi guru itu, sewaktu saya SD kebetulan saya senang ikut lomba-lomba dan dibimbing bersama guru-guru. Jadi, kita rasanya ingin seperti guru saya. Saya ingin mempunyai murid yang juga pandai, murid itu saya bimbing. Kalau ada lomba-lomba, baik olahraga maupun mata pelajaran, mereka berprestasi. Itulah yang membuat saya ingin menjadi guru,” ungkapnya mengenang.
Kini, setelah berstatus sebagai guru bantu selama hampir tiga tahun, Wahfir bercita-cita untuk dapat diangkat menjadi PNS agar tidak perlu was-was dengan nasib ke depannya. Dengan penghasilan sebagai guru bantu sekitar Rp 460 ribu sebulan, ditambah honor dari yayasan, Wahfir menambah pemasukannya dari hasil mengajar privat. Dengan statusnya kini sebagai guru bantu, Wahfir berharap agar pemerintah dapat menaikkan kesejahteraan guru bantu dengan honor hingga paling tidak, lebih tinggi daripada UMR atau setara dengan PNS.
Lebih jauh Wahfir juga mengharapkan agar guru bantu dapat diangkat menjadi PNS karena mereka sudah begitu banyak pengabdiannya kepada bangsa dan negara dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, guru bantu yang seharusnya diprioritaskan menjadi PNS ialah mereka yang telah mengabdi di atas 10 tahun, meskipun hanya tamatan SPG. Selain melihat parameter masa pengabdian, Wahfir menambahkan, “Penilaian guru bantu dari kepala sekolah masing-masing juga dapat digunakan sebagai parameter pertimbangan dalam pengangkatan guru bantu menjadi PNS.”
Meskipun berkeinginan untuk menjadi PNS, Wahfir belum pernah sekali pun mengikuti tes CPNS. “Kebetulan saya belum. Baru pertama kali ikut guru bantu saja itu. Alhamdulillah lolos,” ujarnya. Menurutnya, kalau mengikuti tes CPNS birokrasinya terlalu berbelit-belit. “Ya…, saya dengar image-nya kalau mau jadi PNS itu kan birokrasinya terlalu berbelit-belit. Kadang-kadang katanya nilainya harus sekian, tetapi nyatanya ada juga teman kita yang nilai ijazahnya tidak memenuhi syarat nyatanya bisa lolos melalui (proses) yang kurang bagus gitu ya,” ungkapnya memberi alasan. Karena itu, untuk menjadi PNS, beliau mencoba untuk mengikutinya melalui perekrutan guru bantu. “Kebetulan pas lagi jadi guru bantu prosesnya lebih mudah sehingga saya mencoba dan kebetulan ada ijin dari sekolah,” ujarnya.
Salah satu cita-citanya yang sampai saat ini belum terwujud ialah menjadi PNS. Menurutnya, menjadi PNS ada kemungkinan, akan menimbulkan ketenangan dalam bekerja. “Walaupun menjadi pegawai negeri bukan satu-satunya tujuan. Itu kalau memungkinkan. Katanya kan kita perlu berusaha. Nah kalau kita memang berkeinginan menjadi PNS, namun Allah menghendaki waktunya hanya menjadi guru swasta, juga nggak apa-apa. Namanya rezeki bukan semata-mata di PNS saja. Di swasta pun kalau niatnya baik, kita selalu saja ada jalan,” ujarnya.
Wahfir berharap para guru bantu diangkat menjadi PNS. “Mudah-mudahan pemerintah mempunyai niat baik untuk memperbaiki status kami-kami guru bantu seluruh Indonesia,” harapnya.
(Ririn Utami)

03:40 Posted in GE MOZAIK Agustus 2005 | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: guru, pendidikan, pns, bantu, siswa, soal, ujian


