30.05.2005

[GE MOZAIK, Mei 2005] – Kiat Memilih Buku Bermutu

Mungkin Anda kerap kecewa saat membeli sebuah buku. Padahal uang yang Anda keluarkan untuk mendapatkannya cukup besar. Akan tetapi, isi buku tidak seperti yang Anda harapkan. Bahasanya sulit dipahami, berbelit-belit, dan membosankan. Banyak ejaan yang salah, hasil cetakannya buram, atau bahkan ada halaman yang kosong.

Sebenarnya Anda dapat menghindari kejadian di atas jika Anda mengetahui cara memilih buku yang berkualitas dengan baik. Nah, agar Anda tidak lagi kecewa ketika membeli buku, berikut ini kami sajikan tips-tips untuk memperoleh buku yang baik.

1. Kenali dari penulisnya
Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Ungkapan ini juga berlaku saat Anda memilih buku. Sebelum membeli buku, cari tahu dahulu siapa penulis buku tersebut. Jika Anda telah mengenal pengarang buku tersebut sebagai penulis buku yang berkualitas, Anda boleh merasa yakin buku tersebut berkualitas.

Anda sebaiknya mengetahui, sebuah buku yang baik biasanya ditulis oleh seorang penulis yang memiliki keahlian di bidangnya. Misalnya, Anda ingin mencari buku tentang ekonomi, sudah sepantasnya buku tersebut ditulis oleh penulis yang berlatar belakang bidang ekonomi. Mungkin penulis tersebut seorang guru atau dosen ekonomi, praktisi ekonomi, atau terkenal sebagai pakar ekonomi.

2. Kenali dari penerbitnya
Di Indonesia ada ratusan penerbit. Akan tetapi, tidak semua penerbit memiliki kemampuan untuk menerbitkan buku yang berkualitas. Biasanya penerbit yang sudah cukup lama, memiliki kemampuan tersebut.

Selain itu, penerbit yang berpengalaman umumnya memiliki penulis-penulis buku yang baik. Jadi, carilah buku yang diterbitkan oleh penerbit yang berpengalaman dan buku-bukunya terkenal berkualitas.

3. Kenali dari desain dan tipografinya

Jika Anda sudah yakin bahwa penulis dan penerbit buku tersebut berkualitas, coba lihat sekilas isi dalam buku. Amatilah desain, apakah memudahkan Anda membacanya ataukah tidak. Desain yang ditata dengan baik dan indah akan membantu pembaca untuk memahami isi buku dengan lebih baik.

Perhatikan juga teks atau huruf isi buku tersebut. Syarat buku yang berkualitas, baik teks isi maupun tipografi atau jenis huruf bukunya membantu pembaca untuk menyerap isi buku tersebut. Sebaiknya, hurufnya tidak terlalu besar ataupun tidak terlalu kecil. Sementara, tipografi atau bentuk hurufnya sederhana namun jelas.

4. Kenali dari ilustrasinya
Saat ini, buku-buku tidak hanya berisi huruf-huruf saja. Baik ilustrasi maupun foto telah menjadi bagian dari buku. Penambahan ilustrasi dalam buku maksudnya ialah untuk menambah keindahan buku dan membantu pembaca memahami isi buku.

Jadi, jika Anda membeli buku yang memiliki ilustrasi atau foto di dalamnya, cobalah perhatikan apakah ilustrasi tersebut mendukung isi buku ataukah tidak. Percuma saja ilustrasinya bagus, tetapi ilustrasi tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang diterangkan dalam buku. Sebaliknya, meski ilustrasi tersebut sesuai isi buku, jika tidak menarik dan jelas, justru akan mengganggu keseluruhan buku.

5. Kenali dari sampul bukunya
Buku yang berkualitas dapat juga Anda lihat dari sampul atau cover-nya. Sampul seharusnya mampu mencerminkan isi buku. Jadi, jika sampul bukunya saja sudah tidak menarik, asal-asalan, mudah rusak, bagaimana kita bisa yakin jika buku tersebut berkualitas? Buku yang baik seharusnya memiliki cover yang memiliki desain menarik dan terbuat dari bahan yang kuat atau tidak gampang rusak.

6. Kenali dari sinopsisnya
Sinopsis adalah ringkasan isi buku beserta kelebihan-kelebihannya. Biasanya isi sinopsis ini ditampilkan pada sampul belakang buku. Sebelum Anda memutuskan membeli sebuah buku, alangkah baiknya apabila Anda membaca sinopsis buku tersebut. Cara tersebut akan berguna untuk memastikan bahwa buku tersebut itu sesuai dengan kebutuhan Anda.

7. Kenali dari daftar isinya

Di samping sinopsis, Anda dapat mengetahui isi sebuah buku dengan melihat daftar isinya. Daftar isi merupakan poin-poin atau bab-bab yang terdapat di dalam buku tersebut. Biasanya, daftar isi terdapat pada halaman awal dalam sebuah buku. Sebuah buku yang baik seharusnya memiliki daftar isi yang mampu mencerminkan kandungan isi buku tersebut.

(Prayogo)

Penerbit Ganeca Exact - Buku Bermutu Komitmen Kami - www.ganeca-exact.com

[GE MOZAIK, Mei 2005] – Kualitas Siswa Bergantung pada Guru

Baru-baru ini Managing Basic Education (MBE), sebuah lembaga nirlaba di bidang pendidikan, bekerja sama dengan USAID, lembaga pemberi bantuan luar negeri dari Amerika Serikat, membuat penelitian tentang “peranan guru terhadap tinggi rendahnya mutu hasil karya siswa”.

Dari penelitian tersebut, MBE membuat kesimpulan bahwa kualitas hasil karya siswa sangat tergantung pada dua hal, yaitu (1) tugas/perintah/jenis pertanyaan yang diberikan guru dan (2) tinggi rendahnya tuntutan guru. Contohnya ialah sebagai berikut.


  • • Jika guru olahraga memasang mistar setinggi 40 cm, semua anak hanya akan melompat setinggi 40 cm meskipun beberapa anak mungkin dapat melompat jauh lebih tinggi.

  • • Jika guru memberikan model pertanyaan tertutup, guru hanya akan menghasilkan satu jawaban dari siswa. Namun, apabila guru memberikan model pertanyaan terbuka, siswa akan menjawab secara lebih kreatif. Misalnya, pertanyaan "Sebutkan penyebab banjir" menghasilkan jawaban lebih sedikit dibandingkan dengan pertanyaan "Apa saja penyebab banjir?" atau "Berapa banyak penyebab banjir yang dapat kamu temukan? Jelaskan pendapatmu!”

  • • Jika guru menuliskan 10 soal matematika di papan tulis, siswa hanya akan mengerjakan 10 soal. Akan tetapi, seandainya guru membuat satu contoh soal dan kemudian menyuruh siswa membuat soal sendiri sebanyak-banyaknya, banyak anak akan membuat lebih dari 20 soal dan mengerjakannya dalam waktu yang sama.

  • • Pada kasus pelajaran Pengetahuan Sosial, untuk pertanyaan yang sama tentang “jenis-jenis transportasi”, ternyata siswa kelas 1 SD lebih kreatif dan sudah dapat menulis “Saya pergi ke sekolah naik becak. Teman saya ke sekolah naik mobil”, tetapi anak-anak di kelas 4 SD hanya menulis secara ‘kering’ dalam tabel: “Jenis kendaraan transportasi darat: becak, delman, motor, mobil, dan kereta api”. Hal ini karena tuntutan guru pada siswa kelas 1 SD yang lebih tinggi daripada siswa kelas 4 SD.

  • (Prayogo/disarikan dari mbe.co.id)

    27.05.2005

    [GE MOZAIK, Mei 2005] – Bagaimana Mengajar Matematika yang Benar

    Pernahkah Anda sebagai pengajar merasa kesulitan mengajar matematika kepada anak didik? Mungkin Anda yakin sudah mengajarkan matematika kepada anak didik dengan benar, tetapi mengapa nilai mereka tidak mencapai target Anda? Anda tidak sendirian dalam hal ini, banyak orang tua juga merasakan hal yang sama.

    “Matematika itu susah” merupakan pernyataan klasik. Bisa jadi sebagian besar anak didik Anda membenarkan kalimat tersebut. Apalagi mereka yang tidak menyukai matematika pasti beranggapan bahwa ilmu pasti ini rumit, njelimet, membingungkan, dan bikin pusing saja. Akhirnya mereka pun jadi malas belajar matematika.

    Satu hal yang harus Anda pahami dan sadari, tidak semua siswa mempunyai tingkat intelektual tinggi. Kemampuan setiap siswa menangkap materi pelajaran yang disampaikan berbeda-beda. “Setiap anak memiliki daya nalar yang berbeda. Respon mereka terhadap materi yang disampaikan guru ada yang cepat dan ada pula yang lambat. Memaksa dan memarahi anak didik tidak akan membuahkan hasil seperti harapan Anda,” demikian penuturan Guru Besar Psikologi dan pengamat pendidikan Universitas Diponegoro dalam Suplemen Pendidikan Media Indonesia (3 Mei 2002). Khusus untuk mata pelajaran matematika, jangan menyuruh anak menghafal rumus. Hal ini juga ditegaskan Seto Mulyadi, ahli psikologi anak. Seperti dikutip dari majalah Bobo, 18 Juni 2001, menurutnya, matematika merupakan ilmu pasti yang menuntut pemahaman dan ketekunan berlatih. Menghafal rumus dan cara mengerjakan soal bukan langkah tepat membuat anak cakap dalam ilmu ini. Pendidik seharusnya memiliki metode mengajar yang menggugah minat siswanya.

    Seorang guru matematika kelas 6 SDK 2 Penabur Jakarta, Hennyriawati ( Kompas, 3 Oktober 2004) memiliki cara mengajar yang dapat dicontoh. Dia selalu memberi contoh manfaat belajar matematika kepada anak didiknya yang malas belajar matematika. “Saya selalu menyadarkan mereka akan manfaat dan nilai penting belajar matematika. Tips belajar matematika juga saya berikan agar mereka melakukannya,” tutur Henny.

    Tanamkan pada anak didik, dengan belajar matematika kita akan tahu dan bisa mengukur berapa jauh jalan balik menuju tempat semula sehingga tidak tersesat. Kita juga bisa mengatur uang saku yang harus dikeluarkan dan berapa rupiah sisanya yang bisa ditabung. Dalam matematika seringkali terdapat banyak soal cerita. Ketika mengerjakan soal cerita, kita dituntut mengaitkan beberapa hal sehingga dapat membuat logika kita berjalan.

    Beberapa tips berikut ini dapat diterapkan oleh guru untuk mempelajari matematika.

    • Sebagai pendidik berusahalah supaya cara mengajar Anda menarik bagi para siswa sehingga mereka menyukai Anda. Cobalah untuk sabar dan telaten menuntun mereka belajar. Selingi jam mengajar Anda dengan dongeng dan lelucon.

    • Jangan memaksa anak menghafal rumus matematika. Ajaklah mereka memahami teori dan langkah-langkah pengerjaan soal dengan memberi contoh yang dekat dengan dunia anak-anak.

    • Cobalah membuat sketsa untuk mempermudah siswa memahami soal cerita. Khusus untuk geometri (pelajaran ruang bangun), ajaklah siswa membuat alat peraga bersama.

    • Cobalah Anda membuat bank soal dari soal-soal sulit yang ditemukan dari sumber mana pun. Anda dan semua siswa mencoba menyelesaikan semua soal itu bersama-sama. Bisa juga dibentuk kelompok belajar. Setiap kelompok harus ada 1 dan 2 anak yang pandai matematika supaya bisa membantu teman-temannya. Tentu saja Anda tetap memberi petunjuk penting.

    Semoga keempat cara di atas bermanfaat bagi guru-guru.

    (Laksmi)

    23.05.2005

    [GE MOZAIK, Mei 2005] – Profil Sunarto : Guru Harus Jadikan Dirinya sebagai Contoh

    Bencana alam yang terjadi di tanah air kita akhir-akhir ini, antara lain di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Leuwigajah, kota Cimahi, Jawa Barat, telah mengingatkan kembali kehidupan Sunarto pada masa kecil. Beliau yang merasa dibesarkan dan hidup dekat dengan alam menganggap bahwa terjadinya bencana di TPA Leuwigajah itu sebagai rasa tidak adanya kepedulian masyarakat terhadap alam. “Saya khawatir, jangan-jangan sekarang itu kemurkaan Allah juga gara-gara orang tidak peduli dengan alam. Seperti di Bandung (TPA Leuwigajah, red), longsor kok sampai tidak ketahuan. Karena mereka memang tidak dekat dengan alam,” ungkapnya.

    Beliau menyadari bahwa ternyata sekarang ini kepedulian orang kepada alam itu menjadi kurang. Keinginannya dalam dunia pendidikan ialah agar sejak kecil orang-orang berkembang secara alami karena memang kehidupannya dekat dengan alam. “Bagaimana kalau ada tumbuhan seperti ini, memeliharanya seperti apa, menumbuhkannya harus seperti apa, sehingga ketika ada perubahan alam, baik itu makhluk hidup maupun makhluk tak hidup, dia sudah tahu, sudah bisa memprediksi,” ujarnya.

    Sunarto, yang dilahirkan di Kuningan, 17 Maret 1955 itu, memang hidup dan dibesarkan di lingkungan keluarga petani. Karenanya, tidak heran apabila beliau dekat dengan alam. “Saya di kampung, kemudian saya dibesarkan di lingkungan orang tua petani, jadi saya dulu lebih dekat dengan alam,” ujarnya. Menurutnya, dengan alam seperti tanaman, pertanian, juga dengan hewan, dari situ dirinya jadi hobi dengan ilmu pengetahuan alam karena dari kecil memang dibesarkan di lingkungan itu.

    Profesinya saat ini sebagai guru tampaknya sudah direncanakan sebelumnya. Sejak kecil, beliau memang berniat untuk menjadi guru karena ketika masih bersekolah, yang paling menjadi idolanya justru seorang guru. Pada masa itu, menurutnya, guru merupakan orang yang paling dihormati oleh semua lapisan masyarakat. “Saya melihat bahwa guru itu, waktu itu, orang yang paling dihormati oleh semua lapisan, sehingga saya mengatakan, enak jadi guru,” ungkapnya.

    Beliau membandingkan bahwa berbeda dengan sekarang, guru pada waktu itu sangat dihormati dan menempati posisi di kalangan masyarakat, dalam posisi yang cukup mendapat penghargaan. Akan tetapi, menurutnya, sekarang pun guru masih seperti itu, dihormati, tinggal kembali lagi tergantung pada penampilannya. Beliau memberikan alasan mengapa guru pada waktu itu dihormati, karena melihatnya bahwa guru itu segala-galanya. “Kita melihat, guru itu segala-galanya. Ya perilakunya, ya tutur katanya, ya pakaiannya. Pokoknya segala-galanya,” katanya menjelaskan.

    Mengenai profesi guru yang lebih mendapatkan penghargaan dari masyarakat itu, beliau teringat kembali dengan guru agamanya. Beliau mengenang, ketika gurunya berperilaku, bertutur kata, berpakaian, bertanggung jawab, dan bagaimana kehidupannya di masyarakat. Jadi, bagaimana guru itu menjadi teladan, bukan hanya mengajar. “Kalau saya seperti itu, saya senang sekali,” kenangnya.

    Sementara sekarang ini, terutama di perkotaan, beliau melihat bahwa guru tidak lagi menjadi teladan, keseluruhan, tetapi mungkin hanya sekadar ketika di kelas menyampaikan cukup lama materi pelajaran dan setelah itu kemudian ditinggalkan sehingga anak tidak melihat apa yang dikatakan oleh gurunya itu, apakah gurunya juga melaksanakan seperti itu. Dengan demikian, keteladanan sangat kurang. Guru yang pandai mengajar sekarang banyak, tetapi guru jarang sekali yang menjadikan dirinya contoh, sebagai teladan. “Guru yang bisa beri contoh banyak, tapi guru yang jadikan dirinya sebagai contoh sangat jarang,” ujarnya.

    BIODATA

    Nama Sunarto

    Tempat dan tanggal lahir Kuningan, 17 Maret 1955

    Pekerjaan Guru

    Riwayat pendidikan

  • SD 1967

  • SLTP (PGA) 1970

  • SLTA (SPG) 1973

  • Perguruan Tinggi: Diploma II PGSD, Akta Mengajar IV, dan Strata I Administrasi Negara 1991

  • Pengalaman
  • Diklat instruktur IPA di P3G (Pusat Pengembangan pelatihan guru) di Bandung.

  • Diklat pemandu bidang studi melalui proyek peningkatan mutu IPA melalui SEQIP (Science Education Quality Improvement Project Project).

  • Korwil SEQIP untuk provinsi DKI Jakarta.

  • Tim pengembang kurikulum IPA Pendidikan Dasar DKI Jakarta.

  • (Novan/Herdiansyah)

    19.05.2005

    [GE MOZAIK, Mei 2005] – Kurikulum 2004 (KBK) dan Harapan Para Guru

    Kurikulum Berbasis Kompetensi ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. A. Malik Fajar mulai tahun 2004. Sebagian kalangan pendidikan bersikap skeptis terhadap kurikulum ini dan sebagian lagi menyambut dengan gembira. Berikut ini pandangan dan harapan Farid Ma’ruf, S.Pd., guru pengajar Biologi di SMP 19, Jakarta Selatan, Sunaryo, S.Pd., Kepala Sekolah SD 013 Cipete, dan Harno, S.Pd., guru kelas 6 SD 013 Cipete, Jakarta Selatan.


    medium_kbk.jpg

    Menurut Farid, KBK 2004 telah disosialisasikan kepada guru-guru. Seminar tentang KBK 2004 oleh Pusat Kurikulum telah membantu persiapan para guru untuk mengajar para murid dengan sistem yang terbaru ini. Akan tetapi, Sunaryo dan Harno mengatakan bahwa teori saja tidak cukup. Menurut mereka, harus ada model nyata dari penerapan dan praktik KBK 2004 di kelas.

    Salah satu upaya yang pernah dilakukan oleh Sunaryo, kepala sekolah yang pernah mendapat penghargaan Guru Teladan dari Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2001 ini, ialah dengan mengunjungi sekolah lain yang telah melakukan sistem KBK 2004. Hal ini beliau lakukan untuk melihat dengan contoh nyata bagaimana sebenarnya KBK 2004 dapat benar-benar dipraktikkan di kelas. Beliau juga menambahkan bahwa dirinya merasa sangat beruntung karena mendapat sharing partner melalui rekan-rekannya di pertemuan Kelompok Kerja Guru (KKG) di daerah Cipete yang diadakan sebulan sekali.

    KKG ini merupakan wadah tempat para guru yang langsung terjun ke lapangan dalam proses pengajaran. Mereka dapat saling mengemukakan permasalahan yang mereka alami dalam proses mengajar dan melaksanakan KBK 2004 di kelas. “Para pengawas dan pejabat dapat saja hanya menyampaikan kulit dan teori saja, sedangkan di sini (KKG) untuk sharing dapat dilakukan secara langsung dan dikupas sampai habis,” ungkap Sunaryo. Menurutnya, inilah salah satu cara yang efisien dan hemat biaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia guru dalam mempraktikkan KBK 2004.

    Harno juga menyetujui perlunya model nyata dalam pelaksanaan KBK 2004 yang dapat ditiru oleh para guru. Beliau menyatakan bahwa pelaksanaan KBK 2004 ini masih kurang efisien. Selain itu, katanya, akibat masa transisi yang tidak begitu lama menyebabkan para guru mengalami kesulitan untuk mempraktikkan KBK 2004. “Masa transisi yang tidak begitu lama (dari Kurikulum 1994 suplemen 1999 ke Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004) menyebabkan model pengajaran yang dipraktikkan masih mangacu pada model lama. Bukunya sudah berKBK 2004, tetapi dalam pelaksanaannya masih agak sulit,” ujarnya.

    Hal senada disampaikan Sunaryo. “Teman-teman guru juga perlu proses dan waktu, tidak dapat seperti membalikkan telapak tangan.” Akan tetapi, Kepala Sekolah SD Cipete 013 ini tidak patah semangat. Sunaryo berkata sambil tersenyum optimis, “Tidak perlu nelongsolah, walaupun pelan, tetapi pasti”.

    Ketiga guru ini setuju bahwa perbedaan utama dari KBK 2004 dengan Kurikulum1994 suplemen 1999, yaitu Kurikulum 1994 suplemen 1999 lebih memprioritaskan penilaian pada produk akhir. Pada KBK 2004, proses dan praktiknya harus lebih diutamakan dari produk akhir itu sendiri. Sunaryo menambahkan, “Ibaratnya orang yang naik sepeda, jika jatuh, sakitnya akan selalu teringat. Jika dia mencoba kembali, dia akhirnya akan menikmati kebisaannya (bersepeda) itu”.

    Menurut Harno, guru hanya menjadi fasilitator dan membantu murid melalui proses praktik pembelajaran secara praktikal.

    Sementara Farid juga menegaskan bahwa praktikum yang dilakukan oleh anak didik harus sesuai dengan kehidupan sehari-hari dan dihubungkan dengan dunia nyata anak. Guru yang mengajar Biologi ini tidak segan-segan mencari apa yang diminati anak-anak didiknya. Sebagai contoh, untuk mempelajari kumparan, beliau tidak cuma menjelaskannya secara teori. Beliau bertanya kepada anak-anak didiknya, apakah mereka mempunyai mobil Tamiya dan apakah anak-anak didiknya ingin mobil Tamiyanya lebih cepat larinya. Farid mengetahui bahwa anak-anak didiknya suka beradu cepat mobil Tamiya. Dengan cara ini Farid membangkitkan rasa ingin tahu murid-muridnya. “Yang belajar itu siswa, guru hanya sebagai pendamping. Bagaimana caranya supaya mereka senang? Mereka itu kita ajarkan dengan sistem pengajaran CTL (conceptual teaching learning),” ujarnya.

    Farid lalu meminta anak-anak didiknya mempersiapkan dinamo bekas dari mobil Tamiya mereka. Beliau juga memanggil ahli-ahli dinamo yang berpraktik di dekat Taman Puring, Jakarta Selatan untuk mengajari anak-anak didiknya untuk membuat dinamo. “Ternyata, kalau perbandingannya tepat, Tamiya itu jalannya cepat, dan anak-anak didik saya mampu membuat dinamo,” katanya sambil tersenyum puas.

    Sunaryo mengatakan bahwa perlu adanya kreativitas, pengadaan media, dan dukungan orang tua dalam melaksanakan praktikum. Akan tetapi, setiap praktikum harus dipersiapkan dengan baik sehingga memenuhi tujuan kompetensi yang diharapkan dan tidak melenceng karena terlalu kreatif. Sunaryo juga menyatakan bahwa media, alat peraga, dan keaktifan siswa harus dinilai juga. Tidak semua alat harus dibeli di sekolah, asalkan anak didik komunikatif dengan orang tua mereka. “Misalnya, jika besok belajar tentang tumbuhan biji berbelah, anak didik dapat diminta membawa biji tumbuhan agar dia bisa aktif melakukan eksperimen,” katanya sambil tersenyum. Beliau juga mengusulkan, adanya buku penghubung antara orang tua dan anak didik agar kegiatan anak didik dapat dipantau oleh orang tuanya (terutama dengan anak-anak didik di kelas rendah).

    Walaupun praktikum-praktikum telah dilakukan di kelas, Harno menambahkan bahwa sekarang ini tuntutan ujian secara kognitif dan teori masih menjadi prioritas. Oleh karena itu, banyak guru masih mengajar secara kognitif saja. Menanggapi kondisi ini, Harno mengharapkan, kemampuan yang sifatnya ingatan dan sikap harus diimbangi dengan keterampilan nyata, begitu juga ujiannya.

    Ketiga guru ini juga berharap dengan adanya KBK 2004, anak-anak didik dapat mendapatkan hasil nyata. Dalam arti, materi-materi yang mereka dapatkan di sekolah dapat diaplikasikan dalam dunia nyata.

    “Hal ini dapat diperoleh melalui proses pengajaran dengan sistem Direct Instruction, yaitu ceramah yang dilengkapi dengan dialog tanya jawab antara guru dan anak didiknya. Selain itu, sistem pembelajaran Problem Solving Instructions perlu juga diajarkan untuk memecahkan masalah-masalah yang dijumpai sehari-hari,” ujar Farid.

    Melalui proses pembelajaran KBK 2004, anak didik diharapkan belajar untuk bekerja sama melalui sistem pembelajaran yang disebut Cooperative Learning. “Dengan pembelajaran Cooperative Learning, yang menekankan kerja sama kelompok. Proses ini memiliki ciri adanya kelompok-kelompok kecil yang dibentuk untuk mendiskusikan suatu permasalahan. Di sini, akan ada kerja sama antara anak didik yang lebih mampu dengan anak didik yang belum mampu,” jelas Farid.

    Walaupun begitu ketiga guru ini juga sependapat ingin anak-anak mereka dapat bekerja secara mandiri juga. “ …saya tidak memaksakan (anak didik) selalu mempunyai kelompok. Kalau perlu sendiri ya sendiri, kalau perlu berkelompok ya berkelompok,” tambah Sunaryo.

    Sunaryo juga menegaskan, perlunya guru tambahan dan pembimbing bagi anak-anak didik yang mengalami kesulitan dalam mengikuti suatu pelajaran. Hal ini mengingat perkembangan dan potensi anak didik yang berbeda-beda.

    “Bukan hanya anak didik saja yang harus dibenahi untuk mencapai harapan-harapan ini. Sumber daya manusia guru, inisiatif, dan semangat untuk berkembang para guru juga penting dalam pelaksanaan KBK 2004,” ungkap Sunaryo.

    (Dameria)

    18.05.2005

    [GE MOZAIK, Mei 2005] - Ujung Tombak Pendidikan adalah Guru

    Oleh Arief Rachman *)
    medium_arief.3.jpg

    Saya belum puas terhadap keadaan pendidikan karena tidak ada perubahan riil yang terjadi di sekolah dalam pendidikan selama pemerintahan baru.” Inilah kalimat yang terlintas dalam benak penulis ketika beberapa wartawan bertanya tentang program 100 hari pemerintah. Apa yang terjadi di kelas-kelas sekolah, sebelumnya dengan sekarang, tidak mengalami perubahan. Padahal perubahan yang sangat substansial dalam pendidikan adalah ketika perubahan itu terjadi dalam ruang-ruang kelas. Sekolah sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pendidikan harusnya mendapatkan angin segar agar bisa berubah menjadi sekolah yang berkarakter, bukan sebagai formalitas sekolah yang hanya melakukan rutinitas senin-sabtu.

    Persoalan Mendasar Pendidikan

    Persoalan pendidikan secara umum, selama ini belum tersentuh dengan baik. Apa yang dimaksud dengan sukses pendidikan, masih saja ”mendewakan” ranah kognitif sehingga keberhasilan pendidikan hanya mengukur pencapaian nilai-nilai akademis saja. Padahal dalam Pasal 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional secara tegas disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

    Pasal tersebut secara gamblang menyebutkan bahwa berbagai potensi harus dikembangkan di sekolah, mulai dari potensi spiritual, potensi emosional, potensi sosial, serta potensi-potensi positif lainnya sehingga mereka menjadi warga negara yang diharapkan. Dengan mengacu pada pasal tersebut sebaiknya sukses pendidikan yang kemudian berimplikasi terhadap proses pembelajaran dan sistem ujiannya harus mampu mengukur peserta didik apakah ia memiliki kompetensi bertaqwa, berkepribadian matang, berilmu mutakhir dan berprestasi, mempunyai rasa kebangsaan, serta berwawasan global.

    Selama pemerintahan orde baru sampai sekarang kita tidak pernah bisa membayangkan konsep manusia Indonesia seutuhnya karena pendidikan masih saja ”mencabik-cabik” keutuhan potensi manusia yang hanya difokuskan pada potensi akal/akademis saja. Hal ini bisa terlihat dari siswa-siswa yang dinyatakan lulus sekolah, yaitu mereka yang berhasil mencapai nilai akademis sesuai dengan yang ditetapkan, tanpa pernah melihat secara serius apakah siswa tersebut beriman, mempunyai kematangan emosional, mempunyai hubungan sosial yang baik sebagai bekal kehidupannya di masyarakat.

    Kondisi ini ternyata berimplikasi terhadap pelaksanaan pendidikan di lapangan. Proses pendidikan kini berubah menjadi proses pengajaran. Guru setiap waktu selalu merasa dikejar-kejar kurikulum sehingga targetnya adalah bagaimana menyelesaikan beban kurikulum. Sebaliknya, jika guru sungguh-sungguh ingin mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki seorang siswa maka ia akan berhadapan dengan tuntutan nilai. Maka, tak heran jika hampir semua teori dan pemikiran baru yang berkaitan dengan perubahan pendidikan menjadi tak berlaku ketika sudah di lapangan. Jika kondisi terus menerus berjalan maka pendidikan tidak akan pernah mencapai fungsinya seperti yang diamanatkan undang-undang sistem pendidikan nasional tersebut.

    Mutu Guru dan Persoalannya

    Peningkatan mutu guru harus terfokus pada dua hal. Pertama, peningkatan martabat guru, secara sosial budaya dan ekonomi. Sampai detik ini profesi guru masih menjadi profesi yang kurang menyenangkan dalam kehidupan masyarakat. Status ”umar bakri” ini secara sosial budaya masih menempati kelas ke sekian dibanding profesi-profesi lainnya yang juga setingkat sarjana. Padahal, secara tidak sadar akan seperti apakah bangsa ini ke depan akan sangat ditentukan oleh kualitas guru. Semakin tinggi tingkat penghargaan yang diberikan kepada guru, maka akan semakin tinggi pula pengabdian dan dedikasi guru terhadap profesinya.

    Guru tak bisa lagi dihibur dengan gelar ”pahlawan tanpa tanda jasa” yang sangat identik dengan keprihatinan. Yang dibutuhkan saat ini adalah tindakan nyata dari pemerintah yang tidak terhenti pada lahirnya sebuah kebijakan baru yang tak terimplementasikan.

    Kekhawatiran muncul ketika pemerintah tidak melakukan usaha yang serius terhadap peningkatan maratabat guru, maka akan menurun pula minat dan niatan bagi mereka yang tergolong cerdas atau pandai untuk mengambil studi pada perguruan tinggi atau jurusan-jurusan yang mencetak guru. Dalam bahasa yang lebih lugas mereka tidak mau menjadi guru karena penghargaan terhadap profesi guru secara ekonomi tergolong kecil. Jika pemikiran dan opini seperti ini langgeng dalam masyarakat, maka jangan heran jika pada gilirannya yang mau menjadi guru adalah orang-orang yang tidak terlalu cerdas karena orang-orang cerdas lebih memilih profesi lain yang menurut opini masyarakat cukup menjanjikan. Bahkan, mungkin orang-orang tak terlalu cerdas pun tak berminat menjadi guru! Membuktikan kenyataan ini bukanlah pekerjaan yang terlalu sulit. Kita cukup menanyakan hal ini kepada siswa SMA khususnya yang bersekolah di SMU-SMU unggulan, jarang sekali di antara mereka yang memilih perguruan tinggi atau jurusan yang mencetak guru.

    Kondisi inilah yang patut disayangkan. Memang, meningkatkan martabat guru bukanlah pekerjaan yang sederhana, akan tetapi dengan usaha yang serius, harapan tersebut akan tercapai. Tidak mungkin pendidikan di suatu negara menjadi baik tanpa guru-guru yang berkualitas dan tidak mungkin suatu negara menjadi maju tanpa pendidikan yang berkualitas. Peningkatan status sosial budaya serta ekonomi guru memang salah satunya dengan meningkatkan pendapatannya, namun juga harus dibarengi dengan transformasi sosial budaya bahwa peningkatan mutu suatu bangsa akan sangat tergantung pada kualitas gurunya sehingga ada usaha-usaha berupa reward and punishment yang proporsional dan profesional terhadap guru.

    Kedua, peningkatan profesionalisme guru, melalui program yang terintegrasi, holistik, sesuai dengan hasil pemetaan mutu guru yang jelas, dan penguasaan guru terhadap teknologi informasi dan metode mutakhir pembelajaran. Dengan demikian, maka pemikiran bahwa guru identik dengan kapur, papan tulis, satpel dan buku sumber akan berubah karena guru akan sama dengan sarjana teknik atau komputer yang mahir menggunakan teknologi mutakhir dan berbahasa Inggris.

    Tentu saja, pekerjaan peningkatan kualitas yang berkaitan dengan profesionalisme guru tersebut harus beriringan dengan peningkatan kesejahteraan karena keduanya bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan demikian, guru akan menjadi profesi yang utuh dan terhormat, bukan lagi sebagai profesi kelas dua yang identik dengan ”kekurangan” dalam konteks ekonomi dan profesionalisme.

    *) Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kepala Pengembang Pendidikan Labschool, dan Dosen Universitas Negeri Jakarta.

    1 2 Next