<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?> <?xml-stylesheet title="XSL formatting" type="text/xsl" href="/atom.xsl" ?> <feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id"> <title>GE MOZAIK</title> <link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://ganeca.blogspirit.com/atom.xml"/> <link rel="alternate" type="text/html" href="http://ganeca.blogspirit.com/" /> <subtitle>Media Edukasi Interaktif</subtitle> <updated>2008-05-09T09:30:56+02:00</updated> <rights>All Rights Reserved blogSpirit</rights> <generator uri="http://www.blogspirit.com/" version="5.0">blogSpirit.com</generator> <id>http://ganeca.blogspirit.com/</id>  <entry> <author> <name>ganeca</name> <uri>http://ganeca.blogspirit.com/about.html</uri> </author> <title>eGaneca School - www.eGaneca.com - Latihan Ujian Kapan Saja Dimana Saja</title> <link rel="alternate" type="text/html" href="http://ganeca.blogspirit.com/archive/2006/04/28/eganeca-school-www-eganeca-com-latihan-ujian-kapan-saja-dima.html" />  <id>tag:ganeca.blogspirit.com,2006-04-28:743195</id> <updated>2006-04-28T11:40:00+02:00</updated> <published>2006-04-28T11:40:00+02:00</published>   <category term="Blog" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />    <summary>  Apa itu eGaneca School??       eGaneca School adalah penyelenggara...</summary> <content type="html" xml:base="http://ganeca.blogspirit.com/"> &lt;p&gt;&lt;b&gt;Apa itu eGaneca School??&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;eGaneca School adalah penyelenggara bimbingan pendidikan latihan soal ujian yang bermanfaat bagi seluruh siswa SMP dan SMU yang dapat dilakukan kapan saja dimana saja dengan soal-soal pilihan yang pernah keluar pada ujian-ujian nasional serta soal-soal yang dibuat oleh penulis-penulis serta pakar di bidangnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;a target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://www.eganeca.com/&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;eGaneca School - Latihan Ujian Kapan Saja Dimana Saja&quot; src=&quot;http://ganeca.blogspirit.com/images/image_GE_baru.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt; Akses Layanan eGaneca School&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt; &lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Pelayanan eGaneca School diakses dengan menggunakan sistem kredit-point. Dimana setiap kamu mengakses menu yang ada maka secara otomatis sistem akan mengurangi kredit point yang kamu miliki. Kami menyediakan kartu perdana yang selanjutnya dapat kamu gunakan untuk melakukan registrasi, otomatis kamu telah memiliki 25 poin yang dapat di gunakan untuk mengakses menu layanan dalam eGaneca School. Untuk mengisi ulang kredit-point, kami menyediakan voucher isi ulang bernilai 25 poin, 50 poin, dan 100 poin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dapatkan Kartu Perdana dan Voucher Isi Ulang eGaneca School di &lt;a target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://www.ganeca-exact.com/index.php?option=content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=9&amp;amp;Itemid=43&quot;&gt;Kantor-Kantor Perwakilan Ganeca Exact!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;a target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://www.ganeca-exact.com/index.php?option=content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=9&amp;amp;Itemid=43&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Untuk keterangan lebih lengkap tentang eGaneca School, silakan akses &lt;a target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://www.eganeca.com/berita/infoproduk.lengkap.php?info_kode=30&amp;amp;nomor=2&amp;amp;maxrequest=20&amp;amp;reccount=2&amp;amp;reccount=2&quot;&gt;www.eganeca.com&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;/div&gt; </content> </entry>  <entry> <author> <name>ganeca</name> <uri>http://ganeca.blogspirit.com/about.html</uri> </author> <title>Mengantar dan Membimbing Siswa Menuju Olimpiade Fisika Internasional</title> <link rel="alternate" type="text/html" href="http://ganeca.blogspirit.com/archive/2006/01/20/mengantar-dan-membimbing-siswa-menuju-olimpiade-fisika-inter.html" />  <id>tag:ganeca.blogspirit.com,2006-01-20:524910</id> <updated>2006-01-20T05:22:26+01:00</updated> <published>2006-01-20T05:22:26+01:00</published>   <category term="GE MOZAIK Oktober 2005" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />    <summary> Oleh Zaharah Ramli Aris *)    Pelajaran fisika telah menjadi ‘momok’ di...</summary> <content type="html" xml:base="http://ganeca.blogspirit.com/"> &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Oleh Zaharah Ramli Aris *)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pelajaran fisika telah menjadi ‘momok’ di sebagian besar kalangan siswa SMA di Indonesia. Rumus-rumus sulit yang hanya bisa dipahami orang-orang jenius mungkin menjadi gambaran yang terlintas pertama kali di benak siswa ketika membayangkan subjek ini. Hal itu menjadi penyebab minimnya prestasi siswa SMA Indonesia pada mata pelajaran fisika. Padahal pada kenyataannya, pelajaran ini bisa dipahami cukup dengan menggunakan penalaran mudah yang realitanya dapat dilihat dari kejadian sehari-hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Hal ini memacu saya untuk menjelaskan pada siswa bahwa fenomena fisika ada di sekeliling mereka dan bukan hanya berisi teori-teori kompleks dengan perumusan panjang. Diharapkan dengan pendekatan tersebut, siswa dapat menyadari bahwa fisika itu menyenangkan sehingga mereka terangsang untuk bisa mengaplikasikannya pada lingkungan di sekelilingnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Melalui metode pengajaran yang tepat, siswa dapat membuka belenggu potensi dan siap meraih prestasi dengan ikut serta dalam kompetisi pelajaran di luar sekolah. Dukungan dari semua pihak terutama kepala sekolah yang dipadu dalam suatu jaringan kerja sama tidak hanya akan membantu siswa, tetapi juga pihak-pihak itu sendiri untuk meraih yang dicita-citakan. Prestasi yang diraih seperti pada kompetisi fisika paling bergengsi, yakni olimpiade tingkat Asia (APhO) dan olimpiade tingkat dunia (IPhO), otomatis akan mengangkat nama baik sekolah, bangsa, dan negara, khususnya dalam bidang pendidikan fisika.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;b&gt;Modal Dasar Peningkatan Prestasi Siswa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Seleksi masuk yang ketat mengakibatkan input sekolah ini merupakan siswa-siswa SLTP yang berkualitas. Guru-guru yang berdedikasi tinggi turut mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar dengan tetap melakukan koordinasi antar sesama demi kemajuan siswanya. Sekolah tersebut juga dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang dapat menggali potensi dalam diri siswa. Selain itu, kepala sekolah juga sangat mendukung kemajuan guru-guru untuk meningkatkan potensi diri. Berbagai cara dilakukan oleh kepala sekolah untuk kemajuan guru-guru, misalnya dengan diikutsertakan dalam berbagai pelatihan dan seminar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dalam situasi yang sedemikian kondusif tentu saja sangat membantu untuk menerapkan strategi pengajaran yang telah disusun. Meski kualitas siswa yang masuk sudah memadai, pasti selalu saja ada ruang untuk kemajuan. Dengan memberikan pemahaman konsep yang mudah dipahami ditambah contoh-contoh soal yang aplikatif diharapkan siswa mampu menyelesaikan bermacam variasi soal. Tidak kalah penting adalah pembentukan kelompok-kelompok belajar di kelas untuk menumbuhkan kebiasaan berdiskusi dalam penyelesaian masalah-masalah fisika. Untuk menambah motivasi anak didik, saya juga sering menceritakan kisah-kisah mengenai kehebatan penemuan-penemuan fisika berikut dampaknya dan juga tentang prestasi kakak-kakak kelas mereka yang telah berhasil dalam kompetisi fisika. Target yang ingin dicapai setelah pembinaan, yang Alhamdulillah selama ini memperlihatkan keberhasilan yang cukup signifikan, adalah siswa yang menyukai ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;b&gt;Jalan Menuju Olimpiade Fisika&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Tidak dapat disangkal bahwa kebahagiaan tertinggi bagi seorang guru adalah melihat anak didiknya meraih kesuksesan. Salah satu contoh kecil yang dapat dijadikan tolok ukur langsung adalah keberhasilan siswa dalam memenangkan kompetisi-kompetisi di luar sekolah. Di sana siswa dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat sekaligus mendapatkan gambaran objektif tentang kemampuan dirinya dengan siswa dari sekolah lain sebagai pembanding. Tentu saja peran aktif seorang guru sebagai pembina dan pengarah mutlak diperlukan untuk membimbing anak ke arah tersebut. Sebab hasil yang maksimal diraih bukan dengan cara menggantungkan semua beban ke pundak seorang siswa, tetapi dengan suatu teamwork dimana setiap komponen turut membantu semaksimalnya sesuai dengan peran masing-masing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Langkah pertama dimulai dengan mencari siswa berpotensi di berbagai kelas di sekolahnya. Caranya adalah dengan melihat rapor evaluasi siswa atau meminta pendapat guru lain, termasuk kawan siswa, tentang siapa siswa yang mereka anggap berprestasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Langkah berikutnya adalah dengan mengikutsertakan siswa pada kompetisi di luar sekolah. Tidak lupa untuk memperkenalkan situasi lomba dan juga untuk menggembleng moral, saya sertakan siswa kelas 1 SMA untuk mendampingin kakak-kakak kelasnya dalam berlomba. Diharapkan mereka dapat menjadi teladan bagi adik kelas mereka sehingga dari awal sudah timbul keinginan untuk serius mengimprovisasi diri. Kompetisi-kompetisi semacam ini saya anggap sangat berguna untuk perkembangan mental dan tekad siswa, sekalipun harus pulang tanpa membawa piala. Dengan modal pengalaman serta mental yang kuat, sekitar beberapa minggu sebelum seleksi ujian masuk TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) nasional, anak-anak yang telah dipersiapkan tersebut mulai dibimbing secara intensif.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pada saat penentuan tiba, semuanya berangkat dengan wajah ceria. Tidak ada rasa cemas karena semua sudah berusaha mempersiapkan segala sesuatunya dengan maksimal. Saya ingatkan mereka supaya memulai mengerjakan soal dengan menenangkan hati dan mengucap doa semoga diberikan kemudahan dalam mengerjakan soal. Di tempat itu biasanya kami saling bertukar cerita tentang soal yang tadi diujikan. Tidak peduli hasil yang akan keluar nantinya, selalu saya tekankan kepada mereka untuk terus belajar, belajar, dan belajar tanpa ada rasa putus asa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Apabila anak didik saya yang lolos seleksi TOFI dan masuk karantina untuk penggemblengan lebih lanjut, saya tetap memberikan mereka dukungan dari jauh. Di tempat karantina mereka diajar di bawah bimbingan Prof. Yohanes Surya berikut asisten-asistennya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tanpa terasa beberapa bulan kemudian momen puncak tersebut dating. Pihak sekolah memberikan dukungan dengan memberikan uang saku kepada murid, termasuk izin bagi guru pembimbingnya. Berbagai dukungan juga datang dari berbagai pihak seperti departemen pendidikan, beberapa pejabat, kepala sekolah, guru-guru, teman-teman siswa sampai orang tua murid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Guru bukanlah seorang yang hanya bisa mengajar materi di kelas, tetapi juga sebagai pendidik yang mampu memotivasi, mengarahkan, dan menggali potensi yang ada pada siswa sehingga siswa tahu akan bakat dan minatnya hingga bisa mengembangkan dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dalam rangka menambah wawasan di dunia pendidikan yang dinamis, seorang guru juga dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan pengetahuan melalui berbagai media dan wadah pelatihan. Sebagai bagian dari suatu jaringan yang saling menunjang, seorang guru berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi perannya sebagai guru yang bisa bekerja sama untuk membangun sekolah. Melalui peningkatan prestasi siswa diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa yang lain hingga mampu berkompetisi di dunia internasional, khususnya di bidang fisika dalam membangun teknologi Indonesia. Diharapkan pemerintah dapat memfasilitasi siswa-siswa yang berpotensi dengan memberi beasiswa penuh sesuai dengan bakat dan minat siswa sehingga tidak diambil oleh lembaga pendidikan di negara asing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; *) Guru pembimbing Olimpiade Sains Nasional DKI Jakarta dan juga Guru SMAN 78 Jakarta&lt;/p&gt; </content> </entry>  <entry> <author> <name>ganeca</name> <uri>http://ganeca.blogspirit.com/about.html</uri> </author> <title>PROFIL Drs. Zaharah Ramli Aris - Demi Prestasi Anak Didiknya, Ia Rela Mengeluarkan Dana Pribadi</title> <link rel="alternate" type="text/html" href="http://ganeca.blogspirit.com/archive/2006/01/19/profil-drs-zaharah-ramli-aris-demi-prestasi-anak-didiknya-ia.html" />  <id>tag:ganeca.blogspirit.com,2006-12-08:1106283</id> <updated>2006-12-08T12:45:22+01:00</updated> <published>2006-01-19T12:00:00+01:00</published>   <category term="GE MOZAIK Oktober 2005" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />    <category term="olimpiade" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="sains" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="nasional" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="fisika" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="guru" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="siswa" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="soal" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <summary> Berbicara tentang olimpiade sains nasional, kita tidak dapat melepaskannya...</summary> <content type="html" xml:base="http://ganeca.blogspirit.com/"> &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Berbicara tentang olimpiade sains nasional, kita tidak dapat melepaskannya dari pengalaman tahun 1993, yaitu ketika untuk pertama kalinya Indonesia ikut berpartisipasi dalam International Physics Olympiad (IPhO) XXIV yang diselenggarakan di Virginia, Amerika Serikat. Adalah sosok Zaharah Ramli Aris, seorang guru pendamping yang menjadi bagian dari kontingen Indonesia. Zaharah adalah guru pendamping dari Oky Gunawan, siswa SMAN 78 Jakarta yang ketika itu berhasil meraih medali perak dan mengawali tradisi perolehan medali Tim Olimpiade Fisika Indonesia dalam Olimpiade Fisika Internasional. “Tahun 1993, pertama kali Indonesia ikut olimpiade fisika di Universitas Virginia, dimana waktu itu Yohannes Surya dan Agus Ananda menjadi panitia di sana. Kami diundang oleh mereka melalui surat yang ditujukan kepada beberapa SMA di Indonesia,” kenangnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;img src=&quot;http://ganeca.blogspirit.com/images/zar.jpg&quot; alt=&quot;Zaharah Ramli Aris&quot; /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Menurut Zaharah, pada tahun-tahun awal keikutsertaan Indonesia dalam olimpiade internasional, perhatian sekolah maupun pemerintah terhadap olimpiade belum seperti sekarang ini. “Ketika itu saya membawa sendiri anak didik saya ke ITB untuk dibantu oleh alumni SMAN 78 yang memberikan bimbingan khusus soal-soal olimpiade. Salah satu yang lolos ya Oky Gunawan itu yang kemudian dibina oleh Yohannes Surya,” kisah guru yang menjadi pembimbing peserta olimpiade sejak tahun 1993 ini. “Tahun-tahun awal memang terberat. Baru tahun 2002 mulai ada perhatian dari pemerintah terutama sejak diselenggarakannya olimpiade sains nasional,” tambah Zaharah. Beliau biasa memotivasi anak didiknya agar bersemangat dalam mengikuti kompetisi, termasuk menyediakan fasilitas, dan mengarahkan mereka untuk mendapat binaan dari berbagai nara sumber. “Dibandingkan tahun-tahun awal, belakangan sudah lebih mudah dalam pembinaan olimpiade, karena sudah ada link alumni SMAN 78. Dari kelas 1 sudah ada pemilihan bakat, kemudian di kelas 2 jika mau bertanding baru ditambahkan narasumber dari mana-mana,” ujarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tidak jarang demi kenyamanan dan kesuksesan anak didiknya, Zaharah rela berkorban mengeluarkan dana pribadi untuk keperluan membimbing mereka. Dari dulu, beliau tidak terlalu mengandalkan dana komite. Alasannya karena banyak administrasi yang harus diikuti, seringkali membuat anak yang akan bertanding harus terlebih dahulu menunggu dana. “Daripada anak menunggu, seringkali saya pakai dana pribadi terlebih dahulu. Kalau diganti syukur, kalau tidak ya sudah,” ujarnya. Karena mengerjakannya dengan senang hati, beliau justru merasakan kemudahan dalam mendapatkan rezeki.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Jika melihat anak didik kita berprestasi, segala sesuatu akan mengikuti. Pengorbanan materi tidak terlalu penting,” ungkapnya. Zaharah juga merasa bersyukur dengan talentanya sebagai guru pembina olimpiade serta kepercayaan yang selama ini diberikan kepadanya. Pada Olimpiade Sains Nasional 2005 yang diselenggarakan di Jakarta bulan September kemarin, dua anak didik Zaharah dari SMAN 78 Jakarta, yaitu Muhammad Firdaus Syawaludi (kimia) dan Musawaddah Mukhtar (fisika) berhasil meraih medali emas, serta seorang lagi (Amril Hidayat di bidang fisika) memperoleh medali perak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Zaharah Ramli yang dilahirkan di Pangkal Pinang, mengakui bahwa pilihan profesi menjadi seorang guru tidak direncanakannya sejak kecil, tetapi jalan hiduplah yang mengarahkannya untuk memilih dan menekuni profesi mulia ini. “Ketika saya kelas 1 SMA, bapak saya meninggal. Kakak-kakak saya semuanya masih kuliah. Karena keterbatasan dana, ibu saya mengatakan bahwa jika saya ingin kuliah, harus di negeri. Kalau nggak negeri ya nggak kuliah sama sekali atau kebetulan ada yang minta, harus nikah,” kisahnya. Motivasi yang besar untuk menyelesaikan kuliah inilah yang menjadi proses pertama beliau mencintai profesi guru. “Meski sebetulnya tidak ada rencana dari awal untuk menjadi guru, tetapi begitu saya masuk kuliah, saya pikir memang beginilah jalan hidup saya. Saya tidak bisa memilih. Saya sudah ada di sini. Saya harus survive,” ujar Zaharah mengenang masa kuliahnya di IKIP Jakarta jurusan Pendidikan Fisika.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sebelum mengawali kuliahnya, beliau telah berencana untuk memilih jurusan eksak dengan saran pertimbangan dari kakaknya. “Kakak laki-laki saya yang waktu itu sudah hampir menjadi insinyur mengatakan kepada saya, kalau mau jadi guru, jadi guru eksak saja, melihat prospek di Jakarta yang memungkinkan untuk pengembangan ada di sains. Selain itu juga karena faktor ekonomi,” ujar beliau menceritakan alasan pilihan jurusannya. Sejak duduk di bangku kuliah tingkat II, Zaharah memberikan les privat kepada beberapa siswa. Beliau berusaha untuk tidak terlalu membebani ibunya. “Waktu kecil saya biasa manja dengan 3 pembantu. Sejak kuliah di Jakarta dengan keterbatasan dana, saya harus ngelesi karena saya tidak ingin membebani ibu saya. Saya merasakan bahwa kalau kita mau bekerja keras, pasti ada jalan,” kisah Zaharah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Zaharah mengawali karirnya sebagai seorang guru sejak tahun 1986. Sejak awal menjadi PNS hingga sekarang, beliau mengajar mata pelajaran Fisika di SMAN 78 Jakarta. Dalam mengajar, Zaharah banyak menggunakan metode diskusi dan tanya jawab ke siswa. Khusus untuk siswa yang akan mengikuti olimpiade, menurutnya yang penting siswa harus menguasai konsep dasar materi standar SMA. Jika konsep dasar telah dipahami dengan baik, maka selanjutnya akan lebih mudah untuk dikembangkan. Selama hampir 20 tahun menekuni profesinya, Zaharah juga banyak berperan sebagai motivator bagi anak didiknya. “Saya orangnya kalau mengajar selalu semangat. Kalau dari awal kita sudah memberikan motivasi kepada siswa, berikutnya sudah lebih enak. Tiap kali masuk kelas, harus disiapin dahulu, kasih motivasi 5 – 10 menit”, ujarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Zaharah mengungkapkan bahwa di sekolah dia sering menemukan siswa yang sebenarnya pintar tapi kurang bersemangat jika harus berkompetisi dalam suatu perlombaan. Menurutnya dalam memotivasi anak didik harus memberikan contoh yang riil seperti dengan cara menunjukkan sosok figur yang dapat dicontoh oleh siswa. “Kalau hanya speak-speak doang, sepertinya kurang mengena. Saya kalau melatih anak, selalu saya datangkan alumni yang berprestasi. Saya minta dia menceritakan gimana perjuangannya. Mungkin itu yang bisa membuat anak-anak saya lebih ada rasa pengen maju”, ungkap Zahara. Kedekatannya dengan alumni, membuat beliau lebih mudah untuk minta tolong kepada mereka untuk datang ke sekolah memberikan motivasi kepada para siswa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dalam menjalani hidupnya, Zaharah merasakan bahwa kalau seseorang ingin maju, pasti tantangannya akan lebih besar, termasuk dari rekan-rekan sekerja. Oleh karena itu untuk menyikapinya harus pintar-pintar menempatkan diri. “Kita harus bisa berhati luas karena kita hidup di dunia ini pasti ada yang suka dan tak suka. Itu sudah resiko,” ujarnya. Zaharah selalu berusaha maksimal dalam mengerjakan sesuatu termasuk untuk mencapai obsesinya, yaitu menjadi muslimah yang baik dan masuk surga. “Dalam menjalani hidup, saya berusaha dan mencoba dulu maksimal. Jika ternyata saya tidak bisa, saya akan belok karena berarti ini bukan jalan saya. Saya menerima apa adanya,” ujar Zaharah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (Ririn Utami)&lt;/p&gt; </content> </entry>  <entry> <author> <name>ganeca</name> <uri>http://ganeca.blogspirit.com/about.html</uri> </author> <title>Di Tengah Incaran Negara Asing terhadap Siswa Brilian, Pemerintah Menjamin Masa Depan Juara OSN</title> <link rel="alternate" type="text/html" href="http://ganeca.blogspirit.com/archive/2006/01/20/di-tengah-incaran-negara-asing-terhadap-siswa-brilian-pemeri.html" />  <id>tag:ganeca.blogspirit.com,2006-01-20:524904</id> <updated>2006-12-08T13:06:32+01:00</updated> <published>2006-01-17T05:15:00+01:00</published>   <category term="GE MOZAIK Oktober 2005" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />    <summary> Ajang adu kecerdasan dan kreativitas, yang bertitel Olimpiade Sains Nasional...</summary> <content type="html" xml:base="http://ganeca.blogspirit.com/"> &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Ajang adu kecerdasan dan kreativitas, yang bertitel Olimpiade Sains Nasional (OSN) IV, diselenggarakan di Jakarta pada 4-9 September 2005. Kontingen tuan rumah DKI Jakarta akhirnya berhasil mengukuhkan dirinya sebagai juara umum lomba tahunan ini dengan mengumpulkan 33 medali emas, 27 perak, dan 22 perunggu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Keberhasilan setiap kontingen untuk meraih medali (emas, perak, atau perunggu) tentu tidak dapat dilepaskan dari prestasi siswa briliannya. Akan tetapi, kurangnya perhatian pemerintah dan intensifnya pihak luar negeri untuk mengajak mereka bersekolah dan bekerja di negaranya membuat sebagian dari mereka hengkang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Selama OSN berlangsung, sejumlah Negara (Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan sebagian Negara Uni Eropa) bergerilya di tengah ajang tersebut. Mereka kasak-kusuk berusaha merekrut siswa-siswa brilian untuk diboyong ke Negara mereka dengan iming-iming menggiurkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Sejak dimulainya OSN, Singapura bergerilya untuk mendata peserta. Setelah ada beberapa peserta yang dianggap jenius dan tampil sebagai juara, mereka mulai agresif mendekati,” ujar seorang dosen pembimbing siswa juara lomba Fisika, sebagaimana dilansir Media Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;b&gt;Jaminan Pemerintah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; “Kita memang prihatin, anak-anak kita dicaplok perguruan tinggi di luar negeri dan dicetak menjadi orang lain,” ujar Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Depdiknas, Suyanto, di Gedung Dikmenti Jakarta. Untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah memberi jaminan juara OSN akan memperoleh masa depan yang baik di Indonesia, sehingga mereka tidak perlu lagi lari ke luar negeri untuk mendapatkan fasilitas beasiswa dan pekerjaan. Dia mengatakan, bukan hanya OSN, pemenang lomba karya ilmiah remaja LIPI juga akan memperoleh fasilitas dan kemudahan dalam melanjutakn pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi maupun setelah mereka lulus dari sana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Menurut Suyanto, ke depan memang mendesak untuk ‘mengikat’ juara-juara sains tersebut, dengan berbagai fasilitas yang menjanjikan bagi mereka. “Untuk mewujudkan hal itu, kita tengah merintis kerja sama dengan swasta dan perguruan tinggi ternama di Indonesia,” ungkapnya menambahkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;b&gt;Tidak Sederhana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Suyanto mengatakan, pihaknya akan berusaha mencarikan bea siswa, sekolah yang bermutu sesuai dengan bidang anak-anak itu sekaligus pekerjaan yang cocok dengan intelektual mereka. Namun demikian, persoalannya tidak sesederhana itu. Menurut Suyanto, banyak pilihan perguruan tinggi yang menjanjikan beasiswa di luar negeri sekaligus pekerjaan, dengan penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan di dalam negeri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tentu saja, tidak semua anak muda cerdas itu berminat ke luar negeri. Albert, anggota Tim Turnamen Fisikawan Muda Internasional lebih memilih kuliah di ITB. Begitu pula dengan Lisendra Marbella, anggota Tim Olimpiade Biologi ini menjatuhkan pilihannya berkuliah di UGM. Pertimbangannya, apabila sukses di UGM kesempatan sekolah ke luar negeri terbuka luas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (Novan/Media Indonesia)&lt;/p&gt; </content> </entry>  <entry> <author> <name>ganeca</name> <uri>http://ganeca.blogspirit.com/about.html</uri> </author> <title>[GE MOZAIK, Oktober 2005] – Jepang Tawarkan Beasiswa kepada Guru di Indonesia</title> <link rel="alternate" type="text/html" href="http://ganeca.blogspirit.com/archive/2005/11/24/ge-mozaik-oktober-2005-–-jepang-tawarkan-beasiswa-kepada-gu.html" />  <id>tag:ganeca.blogspirit.com,2005-11-24:433044</id> <updated>2005-11-24T08:24:16+01:00</updated> <published>2005-11-24T08:24:16+01:00</published>   <category term="GE MOZAIK Oktober 2005" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />    <summary> Pemerintah Jepang melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga,...</summary> <content type="html" xml:base="http://ganeca.blogspirit.com/"> &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Pemerintah Jepang melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi (Monbukagakusho) menawarkan beasiswa kepada para guru warga negara Indonesia untuk memperdalam suatu bidang studi di Jepang selama satu setengah tahun (18 bulan) pada tahun akademik 2006.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Demikian Arvil Syahadat, staf Konsulat Jenderal Jepang, di Surabaya belum lama ini. Menurutnya, beasiswa non gelar untuk program Oktober 2006 itu hanya diberikan kepada para guru yang telah memiliki pengalaman mengajar lebih dari lima tahun di lembaga pendidikan formal dan tidak berusia lebih dari 35 tahun pada 1 April 2006. Disebutkan pula beberapa persyaratan lainnya bagi para peminat beasiswa, yakni harus lulusan S-1 atau D-4 dan guru yang mengajar secara aktif di tingkat SD, SLTP, dan SLTA, baik di sekolah negeri maupun swasta. Ia menjelaskan, peminat harus menyerahkan berkas lamaran paling akhir 31 Januari, sementara pengumuman jadwal seleksi akan ditentukan kemudian dan dapat dilihat pada &lt;a href=&quot;http://www.id.emb-japan.go.jp&quot;&gt;www.id.emb-japan.go.jp&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (Novan/Antara)&lt;/p&gt; </content> </entry>  <entry> <author> <name>ganeca</name> <uri>http://ganeca.blogspirit.com/about.html</uri> </author> <title>[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Pengajaran Sastra Dapat Tumbuhkan Kreativitas Siswa</title> <link rel="alternate" type="text/html" href="http://ganeca.blogspirit.com/archive/2005/11/17/ge-mozaik-agustus-2005-–-pengajaran-sastra-dapat-tumbuhkan.html" />  <id>tag:ganeca.blogspirit.com,2005-11-17:421371</id> <updated>2005-11-17T09:13:41+01:00</updated> <published>2005-11-17T09:13:41+01:00</published>   <category term="GE MOZAIK Agustus 2005" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />    <summary> Benarkah bahwa pengajaran sastra dapat menumbuhkan kreativitas siswa?...</summary> <content type="html" xml:base="http://ganeca.blogspirit.com/"> &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Benarkah bahwa pengajaran sastra dapat menumbuhkan kreativitas siswa? Menurut Sekda Jabar H. Setia Hidayat pada pembukaan seminar “Pengajaran Sastra dan Pelatihan Penulisan Sastra se-Asia Tenggara” di Bandung belum lama ini, sastra merupakan wahana untuk mendidik masyarakat tentang nilai-nilai sosial, perilaku yang luhur, dan estetika (keindahan). Dengan membaca sastra, menurutnya, diharapkan harkat dan martabat manusia menjadi lebih tinggi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;img src=&quot;http://ganeca.blogspirit.com/images/sastra.jpg&quot; /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Selain itu, kata Setia, dengan adanya pengajaran sastra di sekolah dapat menumbuhkan apresiasi dan kreativitas siswa serta dapat mengurangi perilaku siswa yang akhir-akhir ini cenderung kasar dan brutal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sementara itu, Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri dan Hubungan Masyarakat Depdiknas, Prof. Dr. Suwarsih Madya mengungkapkan, pengajaran sastra dapat memberikan andil yang signifikan terhadap keberhasilan pengembangan manusia yang diinginkan, asalkan dilaksanakan dengan pendekatan yang tepat, yaitu pendekatan yang dapat merangsang terjadinya olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Menurut Suwarsih, pengajaran bahasa dan sastra dapat saling mendukung jika keduanya dilaksanakan dengan pendekatan yang tepat. Selama ini, menurutnya, banyak kelas-kelas bahasa dan sastra dinilai kurang menarik bagi peserta didik karena pendekatannya kurang tepat. “Bahasa dan sastra selama ini diperlakukan sebagai pengetahuan sehingga kurang melibatkan peserta didik,” ujarnya. Ditambahkannya, para guru bahasa dan sastra tidak berupaya membuat pembelajaran menarik bagi peserta didik. Karena itu, tambahnya lagi, diperlukan upaya agar peserta didik merasa bangga terhadap bahasa nasionalnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sementara itu, Ketua Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara), Dendy Sugono mengatakan bahwa kehidupan sastra tidak dapat dipisahkan dari penggunaan bahasa masyarakat pendukungnya. Sastra, menurutnya, memiliki fungsi menumbuhkan rasa kenasionalan dan solidaritas kemanusiaan serta mempengaruhi proses pembentukan kepribadian dan kebangsaan masyarakat pendukungnya. “Kemajuan sastra sering digunakan sebagai indikator kemajuan peradaban masyarakat pendukungnya,” ujarnya menjelaskan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (Novan/Galamedia)&lt;/p&gt; </content> </entry>  <entry> <author> <name>ganeca</name> <uri>http://ganeca.blogspirit.com/about.html</uri> </author> <title>[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Budaya Tutur Harus Jadi Budaya Tulis</title> <link rel="alternate" type="text/html" href="http://ganeca.blogspirit.com/archive/2005/11/17/ge-mozaik-agustus-2005-–-budaya-tutur-harus-jadi-budaya-tul.html" />  <id>tag:ganeca.blogspirit.com,2005-11-17:421352</id> <updated>2005-11-17T08:57:53+01:00</updated> <published>2005-11-17T08:57:53+01:00</published>   <category term="GE MOZAIK Agustus 2005" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />    <summary> Budaya tutur harus diubah menjadi budaya tulis karena informasi dalam bentuk...</summary> <content type="html" xml:base="http://ganeca.blogspirit.com/"> &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Budaya tutur harus diubah menjadi budaya tulis karena informasi dalam bentuk tulisan akan sangat berperan di masa yang akan datang. Demikian R. Baskara H., praktisi teknologi telematika, pada diskusi “Mengembangkan Pendidikan melalui Teknologi Informasi” di Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung baru-baru ini. “Bila proses tadi menjadi dasar seseorang dalam belajar maka ia sedang meningkatkan budaya informasi dan betapa pentingnya budaya informasi tertulis,” ujarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Menurutnya, penguasaan teknologi internet merupakan salah satu bidang yang sangat berhubungan dengan pengembangan budaya tulis. Bila penguasaan teknologi internet dilakukan secara maksimal, katanya, sesungguhnya pembudayaan pemakaian informasi dalam bentuk tertulis sedang dilakukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Masih menurut Baskara, meskipun di internet banyak muncul informasi negatif, jangan menjadi halangan bagi peminat yang ingin menguasai teknologi telematika. Justru, katanya lagi, kenyataan itu harus menjadi tantangan tersendiri bagi pengakses internet karena jika hal itu dijadikan alasan untuk tidak mendalami internet, dikhawatirkan akan menjadi kendala tersendiri dalam pengembangan internet. “Agar pemakai internet tidak terpengaruh oleh luberan informasi jenis itu (negatif, red.), pengguna internet harus selektif dalam mengakses jaringan internet,” sarannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (Novan/Galamedia)&lt;/p&gt; </content> </entry>  <entry> <author> <name>ganeca</name> <uri>http://ganeca.blogspirit.com/about.html</uri> </author> <title>[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Pengajaran Bahasa Indonesia di SD Harus Dilakukan Secara Utuh</title> <link rel="alternate" type="text/html" href="http://ganeca.blogspirit.com/archive/2005/11/17/ge-mozaik-agustus-2005-–-pengajaran-bahasa-indonesia-di-sd.html" />  <id>tag:ganeca.blogspirit.com,2005-11-17:421345</id> <updated>2005-11-17T08:50:58+01:00</updated> <published>2005-11-17T08:50:58+01:00</published>   <category term="GE MOZAIK Agustus 2005" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />    <summary> Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar (SD) harus dilakukan secara...</summary> <content type="html" xml:base="http://ganeca.blogspirit.com/"> &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar (SD) harus dilakukan secara utuh. “Agar model pengajaran bahasa Indonesia secara utuh bisa muncul, guru harus menetapkan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Kompetensi itu meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis,” ungkap dosen jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Dr. Lely Halimah, M.Pd., pada ujian disertasi untuk memperoleh gelar doktor ilmu kependidikan di Gedung Partere UPI, Bandung, Selasa, 9 Agustus 2005.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dalam disertasi yang berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Bahasa Secara Utuh untuk Meningkatkan Kompetensi Komunikatif (Implementasi pada Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SD)” itu, Lely menyatakan bahwa pada model pengajaran bahasa Indonesia secara utuh, siswa harus berkomunikasi secara aktif. Mereka, katanya, harus menggunakan bahasa yang komunikatif. “Guru harus melihat siswa sebagai subjek yang aktif dan kreatif. Dengan demikian, materi pengajaran yang disampaikan oleh guru bisa dipahami dan dikomunikasikan oleh mereka,” ujarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dituturkannya, dalam kondisi begitu, aktivitas berbahasa yang dilakukan siswa dilakukan dalam suasana kebahasaan yang wajar dan alami. Bahasa yang digunakannya ialah bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga, menurutnya, akan muncul kekontekstualan isi komunikasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mengenai peranan guru, lanjut Lely, pengajaran bahasa Indonesia secara utuh sangat ditunjang perubahan cara mengajar yang dilakukan oleh guru. “Kebiasaan guru yang menempatkan diri sebagai sumber informasi bagi siswa, harus dihilangkan. Pada model pembelajaran itu, guru sebatas menjadi fasilitator,” ujarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (Novan/Galamedia)&lt;/p&gt; </content> </entry>  <entry> <author> <name>ganeca</name> <uri>http://ganeca.blogspirit.com/about.html</uri> </author> <title>[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Profil Wahfir, S.Pd : Ingin Jadi PNS agar Ada Ketenangan</title> <link rel="alternate" type="text/html" href="http://ganeca.blogspirit.com/archive/2005/11/15/ge-mozaik-agustus-2005-–-profil-wahfir-s-pd-ingin-jadi-pns.html" />  <id>tag:ganeca.blogspirit.com,2005-11-15:417533</id> <updated>2007-01-08T12:14:11+01:00</updated> <published>2005-11-15T03:40:00+01:00</published>   <category term="GE MOZAIK Agustus 2005" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />    <category term="guru" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="pendidikan" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="pns" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="bantu" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="siswa" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="soal" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <category term="ujian" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />  <summary> Berprofesi sebagai seorang guru sudah selayaknya dijalani dengan...</summary> <content type="html" xml:base="http://ganeca.blogspirit.com/"> &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Berprofesi sebagai seorang guru sudah selayaknya dijalani dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan, tanpa memandang apakah guru itu berstatus sebagai PNS, guru bantu, atau guru swasta. Demikian pandangan Wahfir dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang guru (bantu). “Seorang guru memiliki tanggung jawab tidak hanya kepada kepala sekolah atau ketua yayasan, tetapi juga yang lebih utama ialah tanggung jawab kepada Yang Maha Kuasa,” ujarnya, sambil menambahkan, “Karena itu, tanpa membeda-bedakan status, setiap guru seharusnya berusaha mengajar yang terbaik menurut kemampuan.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Wahfir, yang dilahirkan di Tegal, 6 Juni 1968, sudah mengajar di SD Pelita sejak tahun 1995, meskipun sesungguhnya sudah sejak tahun 1989 mengajar di sekolah swasta lain. Cita-citanya menjadi seorang guru mulai timbul karena ingin mengikuti jejak gurunya di SMP. “Saya kebetulan tadinya sih ingin kerja kaya orang-orang, seperti di kantor. Namun, setelah saya di SMP, berubah pikiran ingin mengikuti guru saya. Ternyata menjadi guru itu merupakan pekerjaan mulia,” ungkapnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Menjadi guru cukup menyenangkan. Karena tadinya kita ingin menjadi guru berasal dari hati kita, ya walaupun mungkin banyak suka dukanya, ya kita merasa senang saja,” ujar Wahfir mengenang suka dukanya menghadapi anak-anak didiknya di sekolah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Keinginannya menjadi guru juga dipengaruhi oleh kehidupannya sewaktu kecil. Wahfir terinspirasi oleh gurunya yang membimbing muridnya agar pandai, berprestasi. “Makanya saya berminat menjadi guru itu, sewaktu saya SD kebetulan saya senang ikut lomba-lomba dan dibimbing bersama guru-guru. Jadi, kita rasanya ingin seperti guru saya. Saya ingin mempunyai murid yang juga pandai, murid itu saya bimbing. Kalau ada lomba-lomba, baik olahraga maupun mata pelajaran, mereka berprestasi. Itulah yang membuat saya ingin menjadi guru,” ungkapnya mengenang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kini, setelah berstatus sebagai guru bantu selama hampir tiga tahun, Wahfir bercita-cita untuk dapat diangkat menjadi PNS agar tidak perlu was-was dengan nasib ke depannya. Dengan penghasilan sebagai guru bantu sekitar Rp 460 ribu sebulan, ditambah honor dari yayasan, Wahfir menambah pemasukannya dari hasil mengajar privat. Dengan statusnya kini sebagai guru bantu, Wahfir berharap agar pemerintah dapat menaikkan kesejahteraan guru bantu dengan honor hingga paling tidak, lebih tinggi daripada UMR atau setara dengan PNS.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Lebih jauh Wahfir juga mengharapkan agar guru bantu dapat diangkat menjadi PNS karena mereka sudah begitu banyak pengabdiannya kepada bangsa dan negara dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, guru bantu yang seharusnya diprioritaskan menjadi PNS ialah mereka yang telah mengabdi di atas 10 tahun, meskipun hanya tamatan SPG. Selain melihat parameter masa pengabdian, Wahfir menambahkan, “Penilaian guru bantu dari kepala sekolah masing-masing juga dapat digunakan sebagai parameter pertimbangan dalam pengangkatan guru bantu menjadi PNS.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Meskipun berkeinginan untuk menjadi PNS, Wahfir belum pernah sekali pun mengikuti tes CPNS. “Kebetulan saya belum. Baru pertama kali ikut guru bantu saja itu. Alhamdulillah lolos,” ujarnya. Menurutnya, kalau mengikuti tes CPNS birokrasinya terlalu berbelit-belit. “Ya…, saya dengar image-nya kalau mau jadi PNS itu kan birokrasinya terlalu berbelit-belit. Kadang-kadang katanya nilainya harus sekian, tetapi nyatanya ada juga teman kita yang nilai ijazahnya tidak memenuhi syarat nyatanya bisa lolos melalui (proses) yang kurang bagus gitu ya,” ungkapnya memberi alasan. Karena itu, untuk menjadi PNS, beliau mencoba untuk mengikutinya melalui perekrutan guru bantu. “Kebetulan pas lagi jadi guru bantu prosesnya lebih mudah sehingga saya mencoba dan kebetulan ada ijin dari sekolah,” ujarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Salah satu cita-citanya yang sampai saat ini belum terwujud ialah menjadi PNS. Menurutnya, menjadi PNS ada kemungkinan, akan menimbulkan ketenangan dalam bekerja. “Walaupun menjadi pegawai negeri bukan satu-satunya tujuan. Itu kalau memungkinkan. Katanya kan kita perlu berusaha. Nah kalau kita memang berkeinginan menjadi PNS, namun Allah menghendaki waktunya hanya menjadi guru swasta, juga nggak apa-apa. Namanya rezeki bukan semata-mata di PNS saja. Di swasta pun kalau niatnya baik, kita selalu saja ada jalan,” ujarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Wahfir berharap para guru bantu diangkat menjadi PNS. “Mudah-mudahan pemerintah mempunyai niat baik untuk memperbaiki status kami-kami guru bantu seluruh Indonesia,” harapnya.&lt;/p&gt; &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;(Ririn Utami)&lt;/p&gt; &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ganeca.blogspirit.com/images/wahfir.jpg&quot; /&gt;&lt;/p&gt; </content> </entry>  <entry> <author> <name>ganeca</name> <uri>http://ganeca.blogspirit.com/about.html</uri> </author> <title>[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Ketika Guru Bantu Memerlukan Bantuan</title> <link rel="alternate" type="text/html" href="http://ganeca.blogspirit.com/archive/2005/11/10/ge-mozaik-agustus-2005-–-ketika-guru-bantu-memerlukan-bantu.html" />  <id>tag:ganeca.blogspirit.com,2005-11-10:410183</id> <updated>2005-11-10T10:45:00+01:00</updated> <published>2005-11-10T10:45:00+01:00</published>   <category term="GE MOZAIK Agustus 2005" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />    <summary> Berdasarkan hati nuraninya, guru bantu merasa terpanggil untuk mengabdi pada...</summary> <content type="html" xml:base="http://ganeca.blogspirit.com/"> &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Berdasarkan hati nuraninya, guru bantu merasa terpanggil untuk mengabdi pada dunia pendidikan. Mereka mempunyai perhatian khusus untuk turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, dengan penghasilan yang hanya Rp 460 ribu per bulan, guru bantu harus terbagi konsentrasinya dengan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Mereka seakan tidak dapat bersikap &lt;i&gt;survive&lt;/i&gt;. Tekanan hidup semakin meningkat. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat upah yang mereka peroleh jauh di bawah upah minimum regional yang ditetapkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Penghasilan sebagai guru bantu belum memadai. Apalagi pada Bapak/Ibu guru yang sudah berumah tangga dalam mencukupi kebutuhannya sehari-hari,” ungkap Prita Purnama Sari, S.Pd., guru SMP Mekar Sari, Jakarta Timur. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya itu, selain mendapat penghasilan dari profesinya sebagai guru bantu, Prita pun mempunyai kegiatan lain, yakni memberikan les privat, membuat kue, atau menjahit baju.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sementara Ir. Eliza Oktafiani, guru SMA Al Azhar Tanjung Barat, Jakarta Selatan mengungkapkan, selain mengajar di sekolah utamanya, dirinya juga mengajar di sekolah lain dan memberikan les privat. Begitu pun Wahfir, S.Pd., guru SD Pelita, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang selain mengajar di sekolah utamanya, juga memberikan les privat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tekanan hidup yang semakin meningkat tersebut seiring pula dengan belum adanya kepastian pemerintah dalam menuntaskan masalah guru bantu. Para guru bantu berharap agar pemerintah mengangkat mereka menjadi PNS. “Mudah-mudahan pemerintah mempunyai niat baik untuk memperbaiki status kami-kami guru bantu seluruh Indonesia,” harap Wahfir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sementara Eliza berharap agar guru bantu segera diangkat menjadi PNS. “Agar kami (guru bantu, red.) bisa memiliki ketenangan batin dan perbaikan penghasilan sehingga akan dapat berkarya lebih baik lagi dalam mendidik murid-murid kami,” ujarnya. Harapan yang sama juga dikemukakan Prita. Ita, sapaannya, berharap agar pemerintah mengangkat semua guru bantu sebagai PNS tanpa tes sedikit pun. “Padahal guru kan bukan buruh,” katanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;img src=&quot;http://ganeca.blogspirit.com/images/fasli.jpg&quot; /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Menurut Dr. Fasli Jalal, Ph.D., Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas, pada tahap awal, pemerintah akan mengangkat status guru bantu menjadi PNS melalui rekrutmen khusus. Ya, guru bantu memang memerlukan bantuan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (Novan/Sutisno)&lt;/p&gt; </content> </entry>  </feed>