« 2005-11 | HomePage | 2006-04 »
20.01.2006
Mengantar dan Membimbing Siswa Menuju Olimpiade Fisika Internasional
Oleh Zaharah Ramli Aris *)
Pelajaran fisika telah menjadi ‘momok’ di sebagian besar kalangan siswa SMA di Indonesia. Rumus-rumus sulit yang hanya bisa dipahami orang-orang jenius mungkin menjadi gambaran yang terlintas pertama kali di benak siswa ketika membayangkan subjek ini. Hal itu menjadi penyebab minimnya prestasi siswa SMA Indonesia pada mata pelajaran fisika. Padahal pada kenyataannya, pelajaran ini bisa dipahami cukup dengan menggunakan penalaran mudah yang realitanya dapat dilihat dari kejadian sehari-hari.
Hal ini memacu saya untuk menjelaskan pada siswa bahwa fenomena fisika ada di sekeliling mereka dan bukan hanya berisi teori-teori kompleks dengan perumusan panjang. Diharapkan dengan pendekatan tersebut, siswa dapat menyadari bahwa fisika itu menyenangkan sehingga mereka terangsang untuk bisa mengaplikasikannya pada lingkungan di sekelilingnya.
Melalui metode pengajaran yang tepat, siswa dapat membuka belenggu potensi dan siap meraih prestasi dengan ikut serta dalam kompetisi pelajaran di luar sekolah. Dukungan dari semua pihak terutama kepala sekolah yang dipadu dalam suatu jaringan kerja sama tidak hanya akan membantu siswa, tetapi juga pihak-pihak itu sendiri untuk meraih yang dicita-citakan. Prestasi yang diraih seperti pada kompetisi fisika paling bergengsi, yakni olimpiade tingkat Asia (APhO) dan olimpiade tingkat dunia (IPhO), otomatis akan mengangkat nama baik sekolah, bangsa, dan negara, khususnya dalam bidang pendidikan fisika.
Modal Dasar Peningkatan Prestasi Siswa
Seleksi masuk yang ketat mengakibatkan input sekolah ini merupakan siswa-siswa SLTP yang berkualitas. Guru-guru yang berdedikasi tinggi turut mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar dengan tetap melakukan koordinasi antar sesama demi kemajuan siswanya. Sekolah tersebut juga dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang dapat menggali potensi dalam diri siswa. Selain itu, kepala sekolah juga sangat mendukung kemajuan guru-guru untuk meningkatkan potensi diri. Berbagai cara dilakukan oleh kepala sekolah untuk kemajuan guru-guru, misalnya dengan diikutsertakan dalam berbagai pelatihan dan seminar.
Dalam situasi yang sedemikian kondusif tentu saja sangat membantu untuk menerapkan strategi pengajaran yang telah disusun. Meski kualitas siswa yang masuk sudah memadai, pasti selalu saja ada ruang untuk kemajuan. Dengan memberikan pemahaman konsep yang mudah dipahami ditambah contoh-contoh soal yang aplikatif diharapkan siswa mampu menyelesaikan bermacam variasi soal. Tidak kalah penting adalah pembentukan kelompok-kelompok belajar di kelas untuk menumbuhkan kebiasaan berdiskusi dalam penyelesaian masalah-masalah fisika. Untuk menambah motivasi anak didik, saya juga sering menceritakan kisah-kisah mengenai kehebatan penemuan-penemuan fisika berikut dampaknya dan juga tentang prestasi kakak-kakak kelas mereka yang telah berhasil dalam kompetisi fisika. Target yang ingin dicapai setelah pembinaan, yang Alhamdulillah selama ini memperlihatkan keberhasilan yang cukup signifikan, adalah siswa yang menyukai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jalan Menuju Olimpiade Fisika
Tidak dapat disangkal bahwa kebahagiaan tertinggi bagi seorang guru adalah melihat anak didiknya meraih kesuksesan. Salah satu contoh kecil yang dapat dijadikan tolok ukur langsung adalah keberhasilan siswa dalam memenangkan kompetisi-kompetisi di luar sekolah. Di sana siswa dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat sekaligus mendapatkan gambaran objektif tentang kemampuan dirinya dengan siswa dari sekolah lain sebagai pembanding. Tentu saja peran aktif seorang guru sebagai pembina dan pengarah mutlak diperlukan untuk membimbing anak ke arah tersebut. Sebab hasil yang maksimal diraih bukan dengan cara menggantungkan semua beban ke pundak seorang siswa, tetapi dengan suatu teamwork dimana setiap komponen turut membantu semaksimalnya sesuai dengan peran masing-masing.
Langkah pertama dimulai dengan mencari siswa berpotensi di berbagai kelas di sekolahnya. Caranya adalah dengan melihat rapor evaluasi siswa atau meminta pendapat guru lain, termasuk kawan siswa, tentang siapa siswa yang mereka anggap berprestasi.
Langkah berikutnya adalah dengan mengikutsertakan siswa pada kompetisi di luar sekolah. Tidak lupa untuk memperkenalkan situasi lomba dan juga untuk menggembleng moral, saya sertakan siswa kelas 1 SMA untuk mendampingin kakak-kakak kelasnya dalam berlomba. Diharapkan mereka dapat menjadi teladan bagi adik kelas mereka sehingga dari awal sudah timbul keinginan untuk serius mengimprovisasi diri. Kompetisi-kompetisi semacam ini saya anggap sangat berguna untuk perkembangan mental dan tekad siswa, sekalipun harus pulang tanpa membawa piala. Dengan modal pengalaman serta mental yang kuat, sekitar beberapa minggu sebelum seleksi ujian masuk TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) nasional, anak-anak yang telah dipersiapkan tersebut mulai dibimbing secara intensif.
Pada saat penentuan tiba, semuanya berangkat dengan wajah ceria. Tidak ada rasa cemas karena semua sudah berusaha mempersiapkan segala sesuatunya dengan maksimal. Saya ingatkan mereka supaya memulai mengerjakan soal dengan menenangkan hati dan mengucap doa semoga diberikan kemudahan dalam mengerjakan soal. Di tempat itu biasanya kami saling bertukar cerita tentang soal yang tadi diujikan. Tidak peduli hasil yang akan keluar nantinya, selalu saya tekankan kepada mereka untuk terus belajar, belajar, dan belajar tanpa ada rasa putus asa.
Apabila anak didik saya yang lolos seleksi TOFI dan masuk karantina untuk penggemblengan lebih lanjut, saya tetap memberikan mereka dukungan dari jauh. Di tempat karantina mereka diajar di bawah bimbingan Prof. Yohanes Surya berikut asisten-asistennya.
Tanpa terasa beberapa bulan kemudian momen puncak tersebut dating. Pihak sekolah memberikan dukungan dengan memberikan uang saku kepada murid, termasuk izin bagi guru pembimbingnya. Berbagai dukungan juga datang dari berbagai pihak seperti departemen pendidikan, beberapa pejabat, kepala sekolah, guru-guru, teman-teman siswa sampai orang tua murid.
Kesimpulan
Guru bukanlah seorang yang hanya bisa mengajar materi di kelas, tetapi juga sebagai pendidik yang mampu memotivasi, mengarahkan, dan menggali potensi yang ada pada siswa sehingga siswa tahu akan bakat dan minatnya hingga bisa mengembangkan dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Dalam rangka menambah wawasan di dunia pendidikan yang dinamis, seorang guru juga dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan pengetahuan melalui berbagai media dan wadah pelatihan. Sebagai bagian dari suatu jaringan yang saling menunjang, seorang guru berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi perannya sebagai guru yang bisa bekerja sama untuk membangun sekolah. Melalui peningkatan prestasi siswa diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa yang lain hingga mampu berkompetisi di dunia internasional, khususnya di bidang fisika dalam membangun teknologi Indonesia. Diharapkan pemerintah dapat memfasilitasi siswa-siswa yang berpotensi dengan memberi beasiswa penuh sesuai dengan bakat dan minat siswa sehingga tidak diambil oleh lembaga pendidikan di negara asing.
*) Guru pembimbing Olimpiade Sains Nasional DKI Jakarta dan juga Guru SMAN 78 Jakarta
05:22 Posted in GE MOZAIK Oktober 2005 | Permalink | Comments (353) | Email this
19.01.2006
PROFIL Drs. Zaharah Ramli Aris - Demi Prestasi Anak Didiknya, Ia Rela Mengeluarkan Dana Pribadi
Berbicara tentang olimpiade sains nasional, kita tidak dapat melepaskannya dari pengalaman tahun 1993, yaitu ketika untuk pertama kalinya Indonesia ikut berpartisipasi dalam International Physics Olympiad (IPhO) XXIV yang diselenggarakan di Virginia, Amerika Serikat. Adalah sosok Zaharah Ramli Aris, seorang guru pendamping yang menjadi bagian dari kontingen Indonesia. Zaharah adalah guru pendamping dari Oky Gunawan, siswa SMAN 78 Jakarta yang ketika itu berhasil meraih medali perak dan mengawali tradisi perolehan medali Tim Olimpiade Fisika Indonesia dalam Olimpiade Fisika Internasional. “Tahun 1993, pertama kali Indonesia ikut olimpiade fisika di Universitas Virginia, dimana waktu itu Yohannes Surya dan Agus Ananda menjadi panitia di sana. Kami diundang oleh mereka melalui surat yang ditujukan kepada beberapa SMA di Indonesia,” kenangnya.

Menurut Zaharah, pada tahun-tahun awal keikutsertaan Indonesia dalam olimpiade internasional, perhatian sekolah maupun pemerintah terhadap olimpiade belum seperti sekarang ini. “Ketika itu saya membawa sendiri anak didik saya ke ITB untuk dibantu oleh alumni SMAN 78 yang memberikan bimbingan khusus soal-soal olimpiade. Salah satu yang lolos ya Oky Gunawan itu yang kemudian dibina oleh Yohannes Surya,” kisah guru yang menjadi pembimbing peserta olimpiade sejak tahun 1993 ini. “Tahun-tahun awal memang terberat. Baru tahun 2002 mulai ada perhatian dari pemerintah terutama sejak diselenggarakannya olimpiade sains nasional,” tambah Zaharah. Beliau biasa memotivasi anak didiknya agar bersemangat dalam mengikuti kompetisi, termasuk menyediakan fasilitas, dan mengarahkan mereka untuk mendapat binaan dari berbagai nara sumber. “Dibandingkan tahun-tahun awal, belakangan sudah lebih mudah dalam pembinaan olimpiade, karena sudah ada link alumni SMAN 78. Dari kelas 1 sudah ada pemilihan bakat, kemudian di kelas 2 jika mau bertanding baru ditambahkan narasumber dari mana-mana,” ujarnya.
Tidak jarang demi kenyamanan dan kesuksesan anak didiknya, Zaharah rela berkorban mengeluarkan dana pribadi untuk keperluan membimbing mereka. Dari dulu, beliau tidak terlalu mengandalkan dana komite. Alasannya karena banyak administrasi yang harus diikuti, seringkali membuat anak yang akan bertanding harus terlebih dahulu menunggu dana. “Daripada anak menunggu, seringkali saya pakai dana pribadi terlebih dahulu. Kalau diganti syukur, kalau tidak ya sudah,” ujarnya. Karena mengerjakannya dengan senang hati, beliau justru merasakan kemudahan dalam mendapatkan rezeki.
“Jika melihat anak didik kita berprestasi, segala sesuatu akan mengikuti. Pengorbanan materi tidak terlalu penting,” ungkapnya. Zaharah juga merasa bersyukur dengan talentanya sebagai guru pembina olimpiade serta kepercayaan yang selama ini diberikan kepadanya. Pada Olimpiade Sains Nasional 2005 yang diselenggarakan di Jakarta bulan September kemarin, dua anak didik Zaharah dari SMAN 78 Jakarta, yaitu Muhammad Firdaus Syawaludi (kimia) dan Musawaddah Mukhtar (fisika) berhasil meraih medali emas, serta seorang lagi (Amril Hidayat di bidang fisika) memperoleh medali perak.
Zaharah Ramli yang dilahirkan di Pangkal Pinang, mengakui bahwa pilihan profesi menjadi seorang guru tidak direncanakannya sejak kecil, tetapi jalan hiduplah yang mengarahkannya untuk memilih dan menekuni profesi mulia ini. “Ketika saya kelas 1 SMA, bapak saya meninggal. Kakak-kakak saya semuanya masih kuliah. Karena keterbatasan dana, ibu saya mengatakan bahwa jika saya ingin kuliah, harus di negeri. Kalau nggak negeri ya nggak kuliah sama sekali atau kebetulan ada yang minta, harus nikah,” kisahnya. Motivasi yang besar untuk menyelesaikan kuliah inilah yang menjadi proses pertama beliau mencintai profesi guru. “Meski sebetulnya tidak ada rencana dari awal untuk menjadi guru, tetapi begitu saya masuk kuliah, saya pikir memang beginilah jalan hidup saya. Saya tidak bisa memilih. Saya sudah ada di sini. Saya harus survive,” ujar Zaharah mengenang masa kuliahnya di IKIP Jakarta jurusan Pendidikan Fisika.
Sebelum mengawali kuliahnya, beliau telah berencana untuk memilih jurusan eksak dengan saran pertimbangan dari kakaknya. “Kakak laki-laki saya yang waktu itu sudah hampir menjadi insinyur mengatakan kepada saya, kalau mau jadi guru, jadi guru eksak saja, melihat prospek di Jakarta yang memungkinkan untuk pengembangan ada di sains. Selain itu juga karena faktor ekonomi,” ujar beliau menceritakan alasan pilihan jurusannya. Sejak duduk di bangku kuliah tingkat II, Zaharah memberikan les privat kepada beberapa siswa. Beliau berusaha untuk tidak terlalu membebani ibunya. “Waktu kecil saya biasa manja dengan 3 pembantu. Sejak kuliah di Jakarta dengan keterbatasan dana, saya harus ngelesi karena saya tidak ingin membebani ibu saya. Saya merasakan bahwa kalau kita mau bekerja keras, pasti ada jalan,” kisah Zaharah.
Zaharah mengawali karirnya sebagai seorang guru sejak tahun 1986. Sejak awal menjadi PNS hingga sekarang, beliau mengajar mata pelajaran Fisika di SMAN 78 Jakarta. Dalam mengajar, Zaharah banyak menggunakan metode diskusi dan tanya jawab ke siswa. Khusus untuk siswa yang akan mengikuti olimpiade, menurutnya yang penting siswa harus menguasai konsep dasar materi standar SMA. Jika konsep dasar telah dipahami dengan baik, maka selanjutnya akan lebih mudah untuk dikembangkan. Selama hampir 20 tahun menekuni profesinya, Zaharah juga banyak berperan sebagai motivator bagi anak didiknya. “Saya orangnya kalau mengajar selalu semangat. Kalau dari awal kita sudah memberikan motivasi kepada siswa, berikutnya sudah lebih enak. Tiap kali masuk kelas, harus disiapin dahulu, kasih motivasi 5 – 10 menit”, ujarnya.
Zaharah mengungkapkan bahwa di sekolah dia sering menemukan siswa yang sebenarnya pintar tapi kurang bersemangat jika harus berkompetisi dalam suatu perlombaan. Menurutnya dalam memotivasi anak didik harus memberikan contoh yang riil seperti dengan cara menunjukkan sosok figur yang dapat dicontoh oleh siswa. “Kalau hanya speak-speak doang, sepertinya kurang mengena. Saya kalau melatih anak, selalu saya datangkan alumni yang berprestasi. Saya minta dia menceritakan gimana perjuangannya. Mungkin itu yang bisa membuat anak-anak saya lebih ada rasa pengen maju”, ungkap Zahara. Kedekatannya dengan alumni, membuat beliau lebih mudah untuk minta tolong kepada mereka untuk datang ke sekolah memberikan motivasi kepada para siswa.
Dalam menjalani hidupnya, Zaharah merasakan bahwa kalau seseorang ingin maju, pasti tantangannya akan lebih besar, termasuk dari rekan-rekan sekerja. Oleh karena itu untuk menyikapinya harus pintar-pintar menempatkan diri. “Kita harus bisa berhati luas karena kita hidup di dunia ini pasti ada yang suka dan tak suka. Itu sudah resiko,” ujarnya. Zaharah selalu berusaha maksimal dalam mengerjakan sesuatu termasuk untuk mencapai obsesinya, yaitu menjadi muslimah yang baik dan masuk surga. “Dalam menjalani hidup, saya berusaha dan mencoba dulu maksimal. Jika ternyata saya tidak bisa, saya akan belok karena berarti ini bukan jalan saya. Saya menerima apa adanya,” ujar Zaharah.
(Ririn Utami)
12:00 Posted in GE MOZAIK Oktober 2005 | Permalink | Comments (4) | Email this
17.01.2006
Di Tengah Incaran Negara Asing terhadap Siswa Brilian, Pemerintah Menjamin Masa Depan Juara OSN
Ajang adu kecerdasan dan kreativitas, yang bertitel Olimpiade Sains Nasional (OSN) IV, diselenggarakan di Jakarta pada 4-9 September 2005. Kontingen tuan rumah DKI Jakarta akhirnya berhasil mengukuhkan dirinya sebagai juara umum lomba tahunan ini dengan mengumpulkan 33 medali emas, 27 perak, dan 22 perunggu.
Keberhasilan setiap kontingen untuk meraih medali (emas, perak, atau perunggu) tentu tidak dapat dilepaskan dari prestasi siswa briliannya. Akan tetapi, kurangnya perhatian pemerintah dan intensifnya pihak luar negeri untuk mengajak mereka bersekolah dan bekerja di negaranya membuat sebagian dari mereka hengkang.
Selama OSN berlangsung, sejumlah Negara (Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan sebagian Negara Uni Eropa) bergerilya di tengah ajang tersebut. Mereka kasak-kusuk berusaha merekrut siswa-siswa brilian untuk diboyong ke Negara mereka dengan iming-iming menggiurkan.
“Sejak dimulainya OSN, Singapura bergerilya untuk mendata peserta. Setelah ada beberapa peserta yang dianggap jenius dan tampil sebagai juara, mereka mulai agresif mendekati,” ujar seorang dosen pembimbing siswa juara lomba Fisika, sebagaimana dilansir Media Indonesia.
Jaminan Pemerintah
“Kita memang prihatin, anak-anak kita dicaplok perguruan tinggi di luar negeri dan dicetak menjadi orang lain,” ujar Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Depdiknas, Suyanto, di Gedung Dikmenti Jakarta. Untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah memberi jaminan juara OSN akan memperoleh masa depan yang baik di Indonesia, sehingga mereka tidak perlu lagi lari ke luar negeri untuk mendapatkan fasilitas beasiswa dan pekerjaan. Dia mengatakan, bukan hanya OSN, pemenang lomba karya ilmiah remaja LIPI juga akan memperoleh fasilitas dan kemudahan dalam melanjutakn pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi maupun setelah mereka lulus dari sana.
Menurut Suyanto, ke depan memang mendesak untuk ‘mengikat’ juara-juara sains tersebut, dengan berbagai fasilitas yang menjanjikan bagi mereka. “Untuk mewujudkan hal itu, kita tengah merintis kerja sama dengan swasta dan perguruan tinggi ternama di Indonesia,” ungkapnya menambahkan.
Tidak Sederhana
Suyanto mengatakan, pihaknya akan berusaha mencarikan bea siswa, sekolah yang bermutu sesuai dengan bidang anak-anak itu sekaligus pekerjaan yang cocok dengan intelektual mereka. Namun demikian, persoalannya tidak sesederhana itu. Menurut Suyanto, banyak pilihan perguruan tinggi yang menjanjikan beasiswa di luar negeri sekaligus pekerjaan, dengan penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan di dalam negeri.
Tentu saja, tidak semua anak muda cerdas itu berminat ke luar negeri. Albert, anggota Tim Turnamen Fisikawan Muda Internasional lebih memilih kuliah di ITB. Begitu pula dengan Lisendra Marbella, anggota Tim Olimpiade Biologi ini menjatuhkan pilihannya berkuliah di UGM. Pertimbangannya, apabila sukses di UGM kesempatan sekolah ke luar negeri terbuka luas.
(Novan/Media Indonesia)
05:15 Posted in GE MOZAIK Oktober 2005 | Permalink | Comments (0) | Email this

