« [GE MOZAIK, Oktober 2005] – Jepang Tawarkan Beasiswa kepada Guru di Indonesia | HomePage | PROFIL Drs. Zaharah Ramli Aris - Demi Prestasi Anak Didiknya, Ia Rela Mengeluarkan Dana Pribadi »
17.01.2006
Di Tengah Incaran Negara Asing terhadap Siswa Brilian, Pemerintah Menjamin Masa Depan Juara OSN
Ajang adu kecerdasan dan kreativitas, yang bertitel Olimpiade Sains Nasional (OSN) IV, diselenggarakan di Jakarta pada 4-9 September 2005. Kontingen tuan rumah DKI Jakarta akhirnya berhasil mengukuhkan dirinya sebagai juara umum lomba tahunan ini dengan mengumpulkan 33 medali emas, 27 perak, dan 22 perunggu.
Keberhasilan setiap kontingen untuk meraih medali (emas, perak, atau perunggu) tentu tidak dapat dilepaskan dari prestasi siswa briliannya. Akan tetapi, kurangnya perhatian pemerintah dan intensifnya pihak luar negeri untuk mengajak mereka bersekolah dan bekerja di negaranya membuat sebagian dari mereka hengkang.
Selama OSN berlangsung, sejumlah Negara (Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan sebagian Negara Uni Eropa) bergerilya di tengah ajang tersebut. Mereka kasak-kusuk berusaha merekrut siswa-siswa brilian untuk diboyong ke Negara mereka dengan iming-iming menggiurkan.
“Sejak dimulainya OSN, Singapura bergerilya untuk mendata peserta. Setelah ada beberapa peserta yang dianggap jenius dan tampil sebagai juara, mereka mulai agresif mendekati,” ujar seorang dosen pembimbing siswa juara lomba Fisika, sebagaimana dilansir Media Indonesia.
Jaminan Pemerintah
“Kita memang prihatin, anak-anak kita dicaplok perguruan tinggi di luar negeri dan dicetak menjadi orang lain,” ujar Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Depdiknas, Suyanto, di Gedung Dikmenti Jakarta. Untuk mengantisipasi hal ini, pemerintah memberi jaminan juara OSN akan memperoleh masa depan yang baik di Indonesia, sehingga mereka tidak perlu lagi lari ke luar negeri untuk mendapatkan fasilitas beasiswa dan pekerjaan. Dia mengatakan, bukan hanya OSN, pemenang lomba karya ilmiah remaja LIPI juga akan memperoleh fasilitas dan kemudahan dalam melanjutakn pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi maupun setelah mereka lulus dari sana.
Menurut Suyanto, ke depan memang mendesak untuk ‘mengikat’ juara-juara sains tersebut, dengan berbagai fasilitas yang menjanjikan bagi mereka. “Untuk mewujudkan hal itu, kita tengah merintis kerja sama dengan swasta dan perguruan tinggi ternama di Indonesia,” ungkapnya menambahkan.
Tidak Sederhana
Suyanto mengatakan, pihaknya akan berusaha mencarikan bea siswa, sekolah yang bermutu sesuai dengan bidang anak-anak itu sekaligus pekerjaan yang cocok dengan intelektual mereka. Namun demikian, persoalannya tidak sesederhana itu. Menurut Suyanto, banyak pilihan perguruan tinggi yang menjanjikan beasiswa di luar negeri sekaligus pekerjaan, dengan penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan di dalam negeri.
Tentu saja, tidak semua anak muda cerdas itu berminat ke luar negeri. Albert, anggota Tim Turnamen Fisikawan Muda Internasional lebih memilih kuliah di ITB. Begitu pula dengan Lisendra Marbella, anggota Tim Olimpiade Biologi ini menjatuhkan pilihannya berkuliah di UGM. Pertimbangannya, apabila sukses di UGM kesempatan sekolah ke luar negeri terbuka luas.
(Novan/Media Indonesia)
05:15 Posted in GE MOZAIK Oktober 2005 | Permalink | Email this

