« 2005-10 | HomePage | 2006-01 »
24.11.2005
[GE MOZAIK, Oktober 2005] – Jepang Tawarkan Beasiswa kepada Guru di Indonesia
Pemerintah Jepang melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi (Monbukagakusho) menawarkan beasiswa kepada para guru warga negara Indonesia untuk memperdalam suatu bidang studi di Jepang selama satu setengah tahun (18 bulan) pada tahun akademik 2006.
Demikian Arvil Syahadat, staf Konsulat Jenderal Jepang, di Surabaya belum lama ini. Menurutnya, beasiswa non gelar untuk program Oktober 2006 itu hanya diberikan kepada para guru yang telah memiliki pengalaman mengajar lebih dari lima tahun di lembaga pendidikan formal dan tidak berusia lebih dari 35 tahun pada 1 April 2006. Disebutkan pula beberapa persyaratan lainnya bagi para peminat beasiswa, yakni harus lulusan S-1 atau D-4 dan guru yang mengajar secara aktif di tingkat SD, SLTP, dan SLTA, baik di sekolah negeri maupun swasta. Ia menjelaskan, peminat harus menyerahkan berkas lamaran paling akhir 31 Januari, sementara pengumuman jadwal seleksi akan ditentukan kemudian dan dapat dilihat pada www.id.emb-japan.go.jp.
(Novan/Antara)
08:24 Posted in GE MOZAIK Oktober 2005 | Permalink | Comments (17) | Email this
17.11.2005
[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Pengajaran Sastra Dapat Tumbuhkan Kreativitas Siswa
Benarkah bahwa pengajaran sastra dapat menumbuhkan kreativitas siswa? Menurut Sekda Jabar H. Setia Hidayat pada pembukaan seminar “Pengajaran Sastra dan Pelatihan Penulisan Sastra se-Asia Tenggara” di Bandung belum lama ini, sastra merupakan wahana untuk mendidik masyarakat tentang nilai-nilai sosial, perilaku yang luhur, dan estetika (keindahan). Dengan membaca sastra, menurutnya, diharapkan harkat dan martabat manusia menjadi lebih tinggi.

Selain itu, kata Setia, dengan adanya pengajaran sastra di sekolah dapat menumbuhkan apresiasi dan kreativitas siswa serta dapat mengurangi perilaku siswa yang akhir-akhir ini cenderung kasar dan brutal.
Sementara itu, Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri dan Hubungan Masyarakat Depdiknas, Prof. Dr. Suwarsih Madya mengungkapkan, pengajaran sastra dapat memberikan andil yang signifikan terhadap keberhasilan pengembangan manusia yang diinginkan, asalkan dilaksanakan dengan pendekatan yang tepat, yaitu pendekatan yang dapat merangsang terjadinya olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga.
Menurut Suwarsih, pengajaran bahasa dan sastra dapat saling mendukung jika keduanya dilaksanakan dengan pendekatan yang tepat. Selama ini, menurutnya, banyak kelas-kelas bahasa dan sastra dinilai kurang menarik bagi peserta didik karena pendekatannya kurang tepat. “Bahasa dan sastra selama ini diperlakukan sebagai pengetahuan sehingga kurang melibatkan peserta didik,” ujarnya. Ditambahkannya, para guru bahasa dan sastra tidak berupaya membuat pembelajaran menarik bagi peserta didik. Karena itu, tambahnya lagi, diperlukan upaya agar peserta didik merasa bangga terhadap bahasa nasionalnya.
Sementara itu, Ketua Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara), Dendy Sugono mengatakan bahwa kehidupan sastra tidak dapat dipisahkan dari penggunaan bahasa masyarakat pendukungnya. Sastra, menurutnya, memiliki fungsi menumbuhkan rasa kenasionalan dan solidaritas kemanusiaan serta mempengaruhi proses pembentukan kepribadian dan kebangsaan masyarakat pendukungnya. “Kemajuan sastra sering digunakan sebagai indikator kemajuan peradaban masyarakat pendukungnya,” ujarnya menjelaskan.
(Novan/Galamedia)
09:13 Posted in GE MOZAIK Agustus 2005 | Permalink | Comments (0) | Email this
[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Budaya Tutur Harus Jadi Budaya Tulis
Budaya tutur harus diubah menjadi budaya tulis karena informasi dalam bentuk tulisan akan sangat berperan di masa yang akan datang. Demikian R. Baskara H., praktisi teknologi telematika, pada diskusi “Mengembangkan Pendidikan melalui Teknologi Informasi” di Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung baru-baru ini. “Bila proses tadi menjadi dasar seseorang dalam belajar maka ia sedang meningkatkan budaya informasi dan betapa pentingnya budaya informasi tertulis,” ujarnya.
Menurutnya, penguasaan teknologi internet merupakan salah satu bidang yang sangat berhubungan dengan pengembangan budaya tulis. Bila penguasaan teknologi internet dilakukan secara maksimal, katanya, sesungguhnya pembudayaan pemakaian informasi dalam bentuk tertulis sedang dilakukan.
Masih menurut Baskara, meskipun di internet banyak muncul informasi negatif, jangan menjadi halangan bagi peminat yang ingin menguasai teknologi telematika. Justru, katanya lagi, kenyataan itu harus menjadi tantangan tersendiri bagi pengakses internet karena jika hal itu dijadikan alasan untuk tidak mendalami internet, dikhawatirkan akan menjadi kendala tersendiri dalam pengembangan internet. “Agar pemakai internet tidak terpengaruh oleh luberan informasi jenis itu (negatif, red.), pengguna internet harus selektif dalam mengakses jaringan internet,” sarannya.
(Novan/Galamedia)
08:57 Posted in GE MOZAIK Agustus 2005 | Permalink | Comments (2) | Email this
[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Pengajaran Bahasa Indonesia di SD Harus Dilakukan Secara Utuh
Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar (SD) harus dilakukan secara utuh. “Agar model pengajaran bahasa Indonesia secara utuh bisa muncul, guru harus menetapkan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Kompetensi itu meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis,” ungkap dosen jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Dr. Lely Halimah, M.Pd., pada ujian disertasi untuk memperoleh gelar doktor ilmu kependidikan di Gedung Partere UPI, Bandung, Selasa, 9 Agustus 2005.
Dalam disertasi yang berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Bahasa Secara Utuh untuk Meningkatkan Kompetensi Komunikatif (Implementasi pada Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SD)” itu, Lely menyatakan bahwa pada model pengajaran bahasa Indonesia secara utuh, siswa harus berkomunikasi secara aktif. Mereka, katanya, harus menggunakan bahasa yang komunikatif. “Guru harus melihat siswa sebagai subjek yang aktif dan kreatif. Dengan demikian, materi pengajaran yang disampaikan oleh guru bisa dipahami dan dikomunikasikan oleh mereka,” ujarnya.
Dituturkannya, dalam kondisi begitu, aktivitas berbahasa yang dilakukan siswa dilakukan dalam suasana kebahasaan yang wajar dan alami. Bahasa yang digunakannya ialah bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga, menurutnya, akan muncul kekontekstualan isi komunikasi.
Mengenai peranan guru, lanjut Lely, pengajaran bahasa Indonesia secara utuh sangat ditunjang perubahan cara mengajar yang dilakukan oleh guru. “Kebiasaan guru yang menempatkan diri sebagai sumber informasi bagi siswa, harus dihilangkan. Pada model pembelajaran itu, guru sebatas menjadi fasilitator,” ujarnya.
(Novan/Galamedia)
08:50 Posted in GE MOZAIK Agustus 2005 | Permalink | Comments (7) | Email this
15.11.2005
[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Profil Wahfir, S.Pd : Ingin Jadi PNS agar Ada Ketenangan
Berprofesi sebagai seorang guru sudah selayaknya dijalani dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan, tanpa memandang apakah guru itu berstatus sebagai PNS, guru bantu, atau guru swasta. Demikian pandangan Wahfir dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang guru (bantu). “Seorang guru memiliki tanggung jawab tidak hanya kepada kepala sekolah atau ketua yayasan, tetapi juga yang lebih utama ialah tanggung jawab kepada Yang Maha Kuasa,” ujarnya, sambil menambahkan, “Karena itu, tanpa membeda-bedakan status, setiap guru seharusnya berusaha mengajar yang terbaik menurut kemampuan.”
Wahfir, yang dilahirkan di Tegal, 6 Juni 1968, sudah mengajar di SD Pelita sejak tahun 1995, meskipun sesungguhnya sudah sejak tahun 1989 mengajar di sekolah swasta lain. Cita-citanya menjadi seorang guru mulai timbul karena ingin mengikuti jejak gurunya di SMP. “Saya kebetulan tadinya sih ingin kerja kaya orang-orang, seperti di kantor. Namun, setelah saya di SMP, berubah pikiran ingin mengikuti guru saya. Ternyata menjadi guru itu merupakan pekerjaan mulia,” ungkapnya.
“Menjadi guru cukup menyenangkan. Karena tadinya kita ingin menjadi guru berasal dari hati kita, ya walaupun mungkin banyak suka dukanya, ya kita merasa senang saja,” ujar Wahfir mengenang suka dukanya menghadapi anak-anak didiknya di sekolah.
Keinginannya menjadi guru juga dipengaruhi oleh kehidupannya sewaktu kecil. Wahfir terinspirasi oleh gurunya yang membimbing muridnya agar pandai, berprestasi. “Makanya saya berminat menjadi guru itu, sewaktu saya SD kebetulan saya senang ikut lomba-lomba dan dibimbing bersama guru-guru. Jadi, kita rasanya ingin seperti guru saya. Saya ingin mempunyai murid yang juga pandai, murid itu saya bimbing. Kalau ada lomba-lomba, baik olahraga maupun mata pelajaran, mereka berprestasi. Itulah yang membuat saya ingin menjadi guru,” ungkapnya mengenang.
Kini, setelah berstatus sebagai guru bantu selama hampir tiga tahun, Wahfir bercita-cita untuk dapat diangkat menjadi PNS agar tidak perlu was-was dengan nasib ke depannya. Dengan penghasilan sebagai guru bantu sekitar Rp 460 ribu sebulan, ditambah honor dari yayasan, Wahfir menambah pemasukannya dari hasil mengajar privat. Dengan statusnya kini sebagai guru bantu, Wahfir berharap agar pemerintah dapat menaikkan kesejahteraan guru bantu dengan honor hingga paling tidak, lebih tinggi daripada UMR atau setara dengan PNS.
Lebih jauh Wahfir juga mengharapkan agar guru bantu dapat diangkat menjadi PNS karena mereka sudah begitu banyak pengabdiannya kepada bangsa dan negara dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, guru bantu yang seharusnya diprioritaskan menjadi PNS ialah mereka yang telah mengabdi di atas 10 tahun, meskipun hanya tamatan SPG. Selain melihat parameter masa pengabdian, Wahfir menambahkan, “Penilaian guru bantu dari kepala sekolah masing-masing juga dapat digunakan sebagai parameter pertimbangan dalam pengangkatan guru bantu menjadi PNS.”
Meskipun berkeinginan untuk menjadi PNS, Wahfir belum pernah sekali pun mengikuti tes CPNS. “Kebetulan saya belum. Baru pertama kali ikut guru bantu saja itu. Alhamdulillah lolos,” ujarnya. Menurutnya, kalau mengikuti tes CPNS birokrasinya terlalu berbelit-belit. “Ya…, saya dengar image-nya kalau mau jadi PNS itu kan birokrasinya terlalu berbelit-belit. Kadang-kadang katanya nilainya harus sekian, tetapi nyatanya ada juga teman kita yang nilai ijazahnya tidak memenuhi syarat nyatanya bisa lolos melalui (proses) yang kurang bagus gitu ya,” ungkapnya memberi alasan. Karena itu, untuk menjadi PNS, beliau mencoba untuk mengikutinya melalui perekrutan guru bantu. “Kebetulan pas lagi jadi guru bantu prosesnya lebih mudah sehingga saya mencoba dan kebetulan ada ijin dari sekolah,” ujarnya.
Salah satu cita-citanya yang sampai saat ini belum terwujud ialah menjadi PNS. Menurutnya, menjadi PNS ada kemungkinan, akan menimbulkan ketenangan dalam bekerja. “Walaupun menjadi pegawai negeri bukan satu-satunya tujuan. Itu kalau memungkinkan. Katanya kan kita perlu berusaha. Nah kalau kita memang berkeinginan menjadi PNS, namun Allah menghendaki waktunya hanya menjadi guru swasta, juga nggak apa-apa. Namanya rezeki bukan semata-mata di PNS saja. Di swasta pun kalau niatnya baik, kita selalu saja ada jalan,” ujarnya.
Wahfir berharap para guru bantu diangkat menjadi PNS. “Mudah-mudahan pemerintah mempunyai niat baik untuk memperbaiki status kami-kami guru bantu seluruh Indonesia,” harapnya.
(Ririn Utami)

03:40 Posted in GE MOZAIK Agustus 2005 | Permalink | Comments (0) | Email this
10.11.2005
[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Ketika Guru Bantu Memerlukan Bantuan
Berdasarkan hati nuraninya, guru bantu merasa terpanggil untuk mengabdi pada dunia pendidikan. Mereka mempunyai perhatian khusus untuk turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, dengan penghasilan yang hanya Rp 460 ribu per bulan, guru bantu harus terbagi konsentrasinya dengan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Mereka seakan tidak dapat bersikap survive. Tekanan hidup semakin meningkat. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat upah yang mereka peroleh jauh di bawah upah minimum regional yang ditetapkan.
“Penghasilan sebagai guru bantu belum memadai. Apalagi pada Bapak/Ibu guru yang sudah berumah tangga dalam mencukupi kebutuhannya sehari-hari,” ungkap Prita Purnama Sari, S.Pd., guru SMP Mekar Sari, Jakarta Timur. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya itu, selain mendapat penghasilan dari profesinya sebagai guru bantu, Prita pun mempunyai kegiatan lain, yakni memberikan les privat, membuat kue, atau menjahit baju.
Sementara Ir. Eliza Oktafiani, guru SMA Al Azhar Tanjung Barat, Jakarta Selatan mengungkapkan, selain mengajar di sekolah utamanya, dirinya juga mengajar di sekolah lain dan memberikan les privat. Begitu pun Wahfir, S.Pd., guru SD Pelita, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang selain mengajar di sekolah utamanya, juga memberikan les privat.
Tekanan hidup yang semakin meningkat tersebut seiring pula dengan belum adanya kepastian pemerintah dalam menuntaskan masalah guru bantu. Para guru bantu berharap agar pemerintah mengangkat mereka menjadi PNS. “Mudah-mudahan pemerintah mempunyai niat baik untuk memperbaiki status kami-kami guru bantu seluruh Indonesia,” harap Wahfir.
Sementara Eliza berharap agar guru bantu segera diangkat menjadi PNS. “Agar kami (guru bantu, red.) bisa memiliki ketenangan batin dan perbaikan penghasilan sehingga akan dapat berkarya lebih baik lagi dalam mendidik murid-murid kami,” ujarnya. Harapan yang sama juga dikemukakan Prita. Ita, sapaannya, berharap agar pemerintah mengangkat semua guru bantu sebagai PNS tanpa tes sedikit pun. “Padahal guru kan bukan buruh,” katanya.

Menurut Dr. Fasli Jalal, Ph.D., Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas, pada tahap awal, pemerintah akan mengangkat status guru bantu menjadi PNS melalui rekrutmen khusus. Ya, guru bantu memang memerlukan bantuan.
(Novan/Sutisno)
10:45 Posted in GE MOZAIK Agustus 2005 | Permalink | Comments (1) | Email this

