27.06.2005
[GE MOZAIK, Juni 2005] – Pendidikan Kecerdasan Emosional di Amerika Serikat
Dapat dikatakan bahwa pendidikan kecerdasan emosional untuk siswa SD, SMP, dan SMA di negara kita belum memadai dan seintensif di Amerika Serikat (AS). Namun, tidak ada salahnya kita melihat contoh-contoh pengajaran kemampuan kecerdasan emosional di negara tersebut.
Di dalam kelas yang mengajarkan kecerdasan emosional siswa biasanya dilatih untuk bercerita tentang pengalaman dirinya di depan kelas. Dengan bebas siswa mengekspresikan perasaannya (senang, frustrasi, atau sedih. Tujuannya ialah agar siswa dapat mengidentifikasikan perasaannya sendiri dan mengetahui pemicu dari tindakan ofensif yang ia lakukan.
Baik siswa maupun guru juga diminta untuk mendengarkan secara aktif. Guru dan siswa harus belajar untuk mendengarkan pendapat dan perasaan siswa yang bercerita di depan kelas tanpa harus menghakimi. Mereka juga belajar untuk menceritakan kembali, merangkum, menyimpulkan, dan membantu pembicara mengklarifikasi perasaannya.
Pendengar yang aktif harus selalu berusaha mengerti pendengarnya dan melatih kemampuan berempati. Pendengar yang aktif tidak hanya mengandalkan apa yang ia dengar, tetapi juga harus memperhatikan ekspresi muka dan bahasa tubuh orang yang didengarkannya. Dengan bercerita di depan kelas, siswa yang berbicara dan para pendengarnya dapat meningkatkan pengenalan diri mereka dan mengidentifikasi perasaan lawan bicaranya.
Dengan mengadakan latihan ini, baik siswa yang berbicara maupun pendengar dapat saling belajar bahwa tindakan-tindakan tertentu, seperti melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain atau mengolok-olok orang lain dapat menyakiti hati orang lain. Pengajaran komunikasi yang baik dan kemampuan berempati dapat memperbaiki hal ini.
Di New Haven Public Schools Connecticut, siswa dari tingkat SD sampai SMU mendapat pengajaran kecerdasan emosional melalui permainan. Salah satu nama permainan edukasi ini disebut dengan permainan lampu lalu lintas. Siswa kelas 1 SD diajarkan bahwa lampu merah adalah tanda untuk diam dan menenangkan diri jika mereka mendapat masalah, lampu kuning untuk memikirkan masalah dan menyusun rencana pemecahan masalah, dan lampu hijau untuk melakukan pelaksanaan rencana pemecahan masalah. Permainan ini juga tetap dilakukan sampai mereka di tingkat SMP.
Di AS sendiri, pengajaran kecerdasan emosional juga mengajarkan bagaimana menghadapi tekanan dari teman sebaya, bagaimana menghadapi perasaan marah, belajar tentang tindakan dan konsekuensinya. Siswa juga diajak untuk menulis bagaimana mereka menghadapi tindakan kekerasan dari siswa lainnya, bagaimana cara bekerja sama dengan orang lain, dan topik-topik lainnya yang berhubungan dengan dunia mereka sehari-hari.
Program-program tersebut menunjukkan hasil bahwa siswa akhirnya mempunyai kemampuan untuk tidak menjadi destruktif dan menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah mereka. Mereka juga menjadi kurang tertarik untuk menggunakan obat-obatan, minum-minuman alkohol, dan mengikuti pergaulan bebas. Sebaliknya mereka menjadi lebih kooperatif, optimis, mempunyai empati, dan lebih positif memandang masa depan.
Dalam proses belajar mengajar siswa yang mempunyai kecerdasan emosional mampu menyelesaikan permasalahan, rasa frustrasi mereka, berkonsentrasi, dan bekerja sama, baik dengan siswa yang lain maupun dengan guru.
Nah, bagaimana dengan kita? Apakah kurikulum kita sudah menunjang pendidikan kecerdasan emosional siswa yang kita didik? Apa yang dapat kita lakukan untuk mendidik anak didik kita agar mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi?
(Dameria)
04:55 Posted in GE MOZAIK Juni 2005 | Permalink | Comments (3) | Email this
23.06.2005
[GE MOZAIK, Juni 2005] – Pentingnya Pendidikan Kecerdasan Emosional
Sejak kecil biasanya siswa diharapkan untuk mempunyai nilai yang bagus di sekolah. Setelah siswa lulus sekolah, mereka diharapkan untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat pembantunya meraih “masa depan yang cerah” dan gaji yang tinggi. Banyak orang tua, bahkan para guru, berpikir bahwa nilai tinggi dan lulusan sekolah merupakan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan dan kesuksesan dalam karier.
Kenyataan ini memang tidak dapat disangkal. Kemampuan dan nilai akademis yang tinggi dapat membuka banyak pintu bagi kesuksesan seseorang. Akan tetapi, kenyataannya, baik dalam dunia kerja, pribadi, maupun proses belajar mengajar, kemampuan kecerdasan emosional (emotional intelligence) sangat berperan untuk mencapai kesuksesan seseorang. Lapangan kerja yang semakin kompetitif dan spesialis, membuat tidak seorang individu atau institusi mana pun yang dapat mencapai tujuan mereka tanpa harus bekerja sama dalam tim karena setiap orang dipaksa untuk bekerja sama dengan orang lain.
George Lucas, chairman PBS Foundation, mencontohkan bahwa dalam pekerjaannya di bidang pembuatan film, mereka membutuhkan orang-orang yang berbakat dengan keterampilan teknis yang kuat, tetapi kemampuan untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain tidak kurang pentingnya. “Salah satu hal yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam mempersiapkan anak didik ke dunia nyata ialah dengan mengajarkan mereka kemampuan kecerdasan emosional,” ujarnya menambahkan.
Lalu, apa itu kemampuan kecerdasan emosional? Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi, baik emosi dirinya sendiri maupun emosi orang lain, dengan tindakan konstruktif, yang mempromosikan kerja sama sebagai tim yang mengacu pada produktivitas dan bukan pada konflik.
Seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional yang baik akan dapat dikenali melalui lima komponen dasar, yaitu sebagai berikut.
1. Self-awareness (pengenalan diri)
Mampu mengenali emosi dan penyebab dari pemicu emosi tersebut. Jadi, dia mampu mengevaluasi dirinya sendiri dan mendapatkan informasi untuk melakukan suatu tindakan.
2. Self-regulation (penguasaan diri)
Seseorang yang mempunyai pengenalan diri yang baik dapat lebih terkontrol dalam membuat tindakan agar lebih hati-hati. Dia juga akan berusaha untuk tidak impulsif. Akan tetapi, perlu diingat, hal ini bukan berarti bahwa orang tersebut menyembunyikan emosinya melainkan memilih untuk tidak diatur oleh emosinya.
3. Self-motivation (motivasi diri)
Ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan rencana, seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi tidak akan bertanya “Apa yang salah dengan saya atau kita?”. Sebaliknya ia bertanya “Apa yang dapat kita lakukan agar kita dapat memperbaiki masalah ini?”.
4. Empathy (empati)
Kemampuan untuk mengenali perasaan orang lain dan merasakan apa yang orang lain rasakan jika dirinya sendiri yang berada pada posisi tersebut.
5. Effective Relationship (hubungan yang efektif)
Dengan adanya empat kemampuan tersebut, seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain secara efektif. Kemampuan untuk memecahkan masalah bersama-sama lebih ditekankan dan bukan pada konfrontasi yang tidak penting yang sebenarnya dapat dihindari. Orang yang mempunyai kemampuan intelegensia emosional yang tinggi mempunyai tujuan yang konstruktif dalam pikirannya.
Seseorang yang tidak mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi dapat ditandai dengan hal-hal berikut: mempunyai emosi yang tinggi, cepat bertindak berdasarkan emosinya, dan tidak sensitif dengan perasaan orang lain. Orang yang tidak mempunyai kecerdasan emosional tinggi, biasanya mempunyai kecenderungan untuk menyakiti dan memusuhi orang lain.
Dalam dunia kerja, orang-orang yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi sangat diperlukan, terlebih dalam tim untuk mencapai tujuan tertentu. Karenanya, orang tua dan para guru harus memupuk kecerdasan emosional sejak dini.
(Dameria)
Sumber: Education for the Heart, As Well as the Mind dan Emotional Intelligence, An Important Concern for Parent and Teachers of Every Student).
05:10 Posted in GE MOZAIK Juni 2005 | Permalink | Comments (64) | Email this
22.06.2005
[GE MOZAIK, Juni 2005] – Profil Emalia Iragiliati Sukarni : Guru Harus Kreatif
Emalia, yang biasa disapa akrab dengan nama Mimil, adalah seorang wanita yang sangat tekun dan ulet dalam belajar. Ini terbukti, dengan berhasil diraihnya gelar Doktor dalam bidang Linguistik pada tahun 2005, di usianya yang ke-52 tahun. Menurutnya, sejak usia 14 tahun, beliau ditinggal wafat oleh ibunya. Tidak lama berselang, tepatnya ketika berumur 17 tahun, beliau pun harus merasakan penderitaan serupa, ditinggal wafat oleh ayahnya. Karenanya, segala kebutuhan hidupnya seharihari mulai dari SMA hingga beliau menikah dibiayai oleh teman almarhum ayah dan ibunya. “People may change, but God will never change,” ungkapnya berfilosofi.
Diungkapkan Mimil, ada beberapa faktor yang menjadikan dirinya menjadi seorang pengajar, antara lain: pertama, beliau selalu teringat pesan kedua orang tuanya yang selalu mendukung penuh untuk menjadikan dirinya seorang pendidik ketika dewasa kelak. Kedua, beliau senang dengan menjadi seorang pengajar sehingga dapat membuat buku pelajaran Bahasa Inggris (tingkat SD, SMP, SMA, Diploma, dan Universitas, red) maka jangkauan pengaruh akan sampai pada seluruh daerah di Indonesia dan turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Ketiga, beliau akan sangat bangga dapat menjadi orang yang berguna bagi orang lain dengan mencerdaskan kehidupan bangsanya yang sesuai dengan ajaran agama. Keempat, beliau suka mengajar sesuatu yang dikaitkan dengan kegunaannya di kehidupan nyata sehingga siswa merasa tidak membuang-buang waktu dan tenaganya.
Beliau sangat menyukai profesinya menjadi seorang pendidik karena dengan menjadi seorang pendidik seseorang dapat mengetahui secara langsung perkembangan peserta didiknya dari waktu ke waktu. “Pengalaman saya sebagai seorang pengajar adalah sangat menyenangkan. Kita dapat melihat perkembangan seorang murid dari waktu ke waktu. Dari seorang murid yang tidak mengetahui apa yang akan didapat di kelas, dapat menyerap pelajaran, dan mengaplikasikan dalam kehidupan nyata. Apalagi jika murid tersebut sudah jadi ‘orang’ (sukses, red) dan masih mengenali kita sebagai salah satu pengajarnya,“ ungkapnya. “I would be very happy and touched with those kinds of beautiful incidents,” beliau menambahkan.
Emilia, yang di kalangan murid-muridnya dikenal sebagai seorang pengajar yang cepat dalam mencapai target belajar, sangat takut apabila muridnya kelak tidak dapat menghadapi kenyataan hidup setelah lulus. Alasan itulah yang menyebabkan beliau harus mengajar dengan cepat untuk mencapai target yang telah ditentukan. “Saya memang terkenal kalau mengajar terlalu cepat dan terlalu menuntut siswa dalam arti beban SKS hanya dua, tetapi tugasnya sama dengan pelajaran yang enam SKS,” ujarnya menirukan komentar murid-muridnya, sambil menambahkan, “Akan tetapi, setelah dapat melewati ‘ospek’ tersebut, maka manfaatnya akan terasa sewaktu masuk lapangan kerja di kehidupan nyata.”
“Memang saya sadar kalau agak keras karena saya takut anak-anak didik saya tidak akan mampu menghadapi kenyataan hidup yang sangat beragam. Misalnya, kalau dididik menjadi sarjana bahasa Inggris maka dapat saja bekerja sebagai presenter atau guide untuk olahraga arung jeram,” ujarnya.
Beliau mengungkapkan bahwa menjadi seorang pengajar tidaklah mudah karena ada beberapa kendala yang harus dihadapi oleh para pengajar pada saat mengajar. Namun demikian, menurutnya, dengan adanya kerja sama yang baik antara siswa, pengajar, orang tua, dan masyarakat, kendala tersebut akan mudah untuk diatasi. Kendala yang dihadapi oleh para pengajar pada umumnya, antara lain: (1) pelajaran yang akan diberikan selalu berubah dan jumlahnya banyak, mengikuti perkembangan ilmu; (2) kemampuan IQ siswa, cultural background (suka membaca atau tidak) , socio-economical factor (tersedianya sarana pendidikan yang lengkap) , dan daya serap pengetahuan berbeda satu dengan lainnya. Hal-hal tersebut juga dipengaruhi dengan adanya faktor orang tua yang mengikuti perkembangan mental maupun fisik
anak didik atau tidak. Jadi, menurutnya, dengan adanya kendala-kendala tersebut beban pengajar semakin berat bilamana tidak ada kerja sama yang baik antara siswa, pengajar, orang tua, serta masyarakat, dalam hal ini adalah sekolah.
Menurutnya, guru harus menjadi seorang yang kreatif di dalam Kegiatan Belajar Mengajar. “Ijinkanlah kreativitas anak untuk berkembang dan jadilah seorang guru yang kreatif dengan keadaan yang ada serta kegiatan selalu dikaitkan dengan kehidupan nyata. Sebagai contoh dalam kelas Speaking V, anak-anak menjadi seorang story teller dan membuat media dengan spidol warna yang ada bagi anak-anak SD, intonasi suara yang menarik dan games dilakukan. Lalu, berubah menjadi presenter TV terkenal dengan menggunakan mike dan tape sehingga persis seperti acara di TV, termasuk cara duduk serta intonasi suara. Setelah itu menjadi paper presenter di seminar memakai OHP yang ada dan mike. Dengan demikian, anak tersebut telah berganti peran dari guru Inggris SD, presenter TV serta paper presenter di seminar internasional. Kalau di lingkungan SD maka anak-anak SD juga dapat dididik menjadi orang-orang dengan pekerjaan tersebut dalam lingkup kreativitas anak. “Selamat bekerja dan mengembangkan kreativitas anda serta anak didik anda,” sarannya kepada para pengajar.
Nama Dr. Emalia Iragiliati Sukarni, M. Pd.
Tempat dan tanggal lahir Yogyakarta, 2 April 1953
Alamat Jl. Puncak Dieng LL2/12, Malang.
Pekerjaan
- Kepala Laboratorium Bahasa Universitas Negeri Malang
- Dosen Jurusan Inggris, Universitas Negeri Malang
Riwayat Pendidikan
- SD Sacred Heart School, China; dan SD Lematang, Jakarta (1965)
- SMP Santa Ursula, Jakarta (1968)
- SMA Santa Ursula, Jakarta (1971)
- Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Jurusan Arsitek (1972-1974)
- Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jurusan Inggris (1974-1976)
- IKIP Malang, Jurusan Inggris (S1) 1985
- IKIP Malang, Jurusan Linguistik Terapan (S2) 1991
- IKIP Malang (Universitas Malang), Jurusan Linguistik Pragmatik Terapan (S3) 1998-2005
Pengalaman
- Guru SD Trinata Malang pada Tahun 1976
- Konsultan Bahasa
- Penulis Buku Umum dan Pelajaran Bahasa Inggris untuk jenjang SD, SMP, SMA, Diploma, dan Universitas
(H. Herdiansyah A.)
09:20 Posted in GE MOZAIK Juni 2005 | Permalink | Comments (5) | Email this
17.06.2005
[GE MOZAIK, Juni 2005] – Pentingnya Buku Pelajaran dalam Proses Pembelajaran

Buku pelajaran memiliki peran penting dalam sistem pendidikan (nasional). Buku merupakan salah satu komponen dalam proses kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut dirasakan manfaatnya oleh Diah Wahyu Fitria Rahmawati, siswa kelas 6 SDS Trisula I Jakarta. Menurutnya, manfaat buku pelajaran, yaitu untuk menambah pengetahuan, misalnya untuk mengetahui perkembangan atau peristiwa-peristiwa yang terjadi. Meskipun demikian, tampaknya tidak semua pengetahuannya tercakup dalam buku pelajaran. Karenanya, selain memiliki buku pelajaran, menurut Inu, sapaan akrabnya, ia pun membuat catatan-catatan yang menurutnya di buku tidak ada.
Kemanfaatan buku pelajaran dibenarkan pula oleh Tami, siswi SMP Labschool Rawamangun Jakarta Timur. “Manfaat buku pelajaran adalah untuk menambah ilmu, dalam pengertian dari tidak tahu menjadi tahu, agar mendapat nilai bagus ketika ulangan, dan dapat menjawab pertanyaan dari guru,” ungkapnya beralasan.
Pentingnya buku pelajaran ditanggapi pula oleh Budi, orang tua murid. “Pasti sangat penting,” ujarnya bersemangat. Menurutnya, apalah pengetahuan kami (baca: masih kurang, red.) kalau tidak dibantu dengan buku. “Oleh karena itu, memilih buku yang baik sangat menentukan hasil belajar dari anak-anaknya,” ungkapnya menjelaskan.
Bagi orang tua murid yang tinggal di Percetakan Negara ini, dengan adanya buku pelajaran sangat membantu dirinya. “Saya tidak mengerti kurikulum itu apa, dan apa yang harus diajarkan, serta berapa lama waktunya,” katanya beralasan tentang manfaat buku pelajaran. Jadi, menurutnya, buku menjadi patokan orang tua untuk mengajari, membantu belajarnya, atau mengukur tingkat keberhasilannya.
Buku Teks Jangan Hanya Jadikan Patokan
Tidak dapat disangkal lagi bahwa baik oleh siswa maupun orang tua siswa, buku pelajaran masih dijadikan patokan. Begitu pun dengan guru. Menurut Deden E. Ariffan, ukuran untuk guru-guru di Indonesia masih berpatokan dengan buku teks. “Keberadaan buku teks sangat membantu, tetapi jangan sampai terjadi guru hanya berpatokan pada buku tersebut,” ujar guru SMA yang mengajar Antropologi di Labschool Rawamangun Jakarta Timur ini menambahkan. Padahal, tambahnya lagi, guru dapat mencari bahan rujukan dari sumber aslinya, yaitu dengan melihat daftar pustaka pada buku teks. Nantinya, katanya, guru akan mendapatkan ilmu-ilmu baru yang tidak didapatkan dalam buku pelajaran tersebut.
Lalu, bagaimana gambaran ideal sebuah buku pelajaran? Moh. Yasin, dosen UI, menjelaskan bahwa kita harus melihat dari tujuan pendidikan itu sendiri. Namun demikian, menurutnya, Departemen Pendidikan Nasional sebagai badan yang berkompeten dirasa belum mempunyai tujuan yang jelas. “Tidak adanya kesinambungan antara SMP, SMU, dan universitas,” ungkap staf pengajar di FEUI ini.
Menyinggung buku-buku pelajaran yang diterbitkan oleh penerbit swasta, Deden melihat masih ada kekurangannya. Ia melihat bahwa buku pelajaran, penekanannya lebih kepada apa yang disebut intelektual atau akal yang disebut kecerdasan intelektual. Jadi, menurutnya, tidak menyentuh kepada hal-hal yang bersifat emosional, mampu menggugah sosial anak, dan mampu menggugah potensi spiritual anak. “Ini kemudian yang menyebabkan buku-buku pelajaran tidak terlalu menarik karena hanya memuat materi dengan sangat padat dan tidak ada ekspresi untuk anak harus melakukan apa terhadap buku tersebut,” ujarnya menjelaskan.
Sementara dari segi desain, masih menurut Deden, buku-buku sekarang sudah lebih baik, artinya sudah mulai ada setting atau pengaturan warna buku meskipun diakuinya bahwa jika dibandingkan dengan buku-buku dari luar kita masih ketinggalan, dalam arti selain buku-buku itu menarik, juga penuh dengan ilustrasi-ilustrasi yang mampu menimbulkan imajinatif anak.
Hal senada diungkapkan pula oleh Lili Nurlaili,
staf teknik Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional. Menurut Lili, pada umumnya, secara garis besar, terutama para penerbit besar, buku-bukunya sudah bagus, artinya sudah memenuhi sesuai dengan target kurikulum. Namun demikian, menurutnya, buku-buku tersebut masih kurang lengkap, yakni dalam penilaiannya sebagaimana tuntutan kurikulum ( project and product dan paper and pencil). “Kalau paper and pencil semua buku sudah sudah canggih, bagaimana item soalnya, dan seterusnya sudah bagus,” ungkapnya, sambil menambahkan, hanya project and product belum. “Mereka membuat seperti mari lakukan dan seterusnya, tetapi setelah itu anak-anak tidak di-guideline seperti apa melakukan wawancara, kemudian stamp pertanyaannya seperti apa dan kepada siapa audiensnya,” jelasnya. Jadi artinya, ia melanjutkan, tahapan-tahapan yang paper and pencil dan project, serta seperti apa portofolio itu kurang jelas.
Ia mencontohkan, “Lakukanlah wawancara atau lakukanlah observasi, tidak diberi lagi seperti apa mereka lakukan observasi, kemudian arahannya seperti apa, kemudian kalau targetnya sudah tercapai sebenarnya yang dinilai dalam observasinya itu apa, di dalam wawancaranya itu apa.” Secara sederhananya ia menunjukkan dalam diskusi sering melihatnya diskusikanlah ini dan diskusikanlah itu, tetapi anak-anak tidak tahu diskusi yang benar itu seperti apa. “Misalnya saling menghargai, mau menerima pendapat teman, tidak mendominasi pembicaraan, itu tidak diberikan pengarahan seperti itu sehingga akhirnya diskusi itu lepas begitu saja, dan terkadang guru juga tidak memperhatikan bagaimana arahan diskusi yang baik dan benar tersebut,” sesalnya.
(Subiyanto/Bambang/Novan)
06:30 Posted in GE MOZAIK Juni 2005 | Permalink | Comments (7) | Email this
15.06.2005
[GE MOZAIK, Juni 2005] - Peranan Buku dalam Proses Belajar Mengajar
Oleh Koko Martono *)
Amanat Pembukaan UUD Negara RI 1945 menghendaki agar bangsa Indonesia sejahtera, cerdas, dan dapat berperan di dunia. Semua ini berkaitan erat dengan pendidikan bermutu tinggi yang sangat tergantung pada kualitas dan kuantitas buku pelajaran sebagai sumber informasi yang utama.
Dalam proses belajar mengajar, guru “menanam” informasi di benak siswa, kemudian siswa melakukan rangkaian kegiatan agar informasi tersebut tumbuh dan berkembang sehingga mencapai kompetensi yang diinginkan. Buku pelajaran berperan penting bagi guru dan siswa sebagai kendaraan untuk mencapai kompetensi tersebut. Proses belajar mengajar yang baik menghasilkan siswa yang mampu berbuat sesuatu dengan menggunakan informasi yang telah dipelajarinya. Mampu berbuat sesuatu berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya akan membentuk kompetensi seseorang.
Semua ini telah dicanangkan dalam empat pilar pembelajaran dari UNESCO pada akhir abad ke-20, yaitu learning to know (belajar untuk tahu), learning to do (belajar untuk berbuat), learning to be (belajar untuk membangun jati diri), dan learning together (belajar untuk hidup bersama secara harmonis).
Buku Pelajaran dan Peran Guru
Buku pelajaran yang berkualitas dapat menyajikan informasi yang mudah dipahami oleh pembacanya. Pengarang menjamin komunikasi tertulis dengan pembaca dengan menyajikan jaringan dan sistematika informasi di dalam bukunya. Agar buku mempunyai asas manfaat yang tinggi, pengarang juga menyajikan ketajaman dan jangkauan informasi yang dapat dipelajari melalui bukunya. Pada saat membaca buku diharapkan terjadinya jalinan komunikasi batin seakan-akan pembaca sedang berguru kepada sang pengarang. Buku yang baik memuat visi (arah), misi (pesan), konteks (kaitan), konten (isi), dan proses diri suatu informasi yang disajikan. Penyajian yang baik akan membuat siswa bermotivasi tinggi untuk menguasai informasinya.
Pada era informasi dewasa ini, siswa diharapkan dapat menangkap, menyaring, mematangkan, dan menyimpan informasi dengan cepat. Buku yang berkualitas berperan sebagai suatu kendaraan canggih untuk mencapai tujuan ini dan mengantarkan siswa sampai ke tujuan kompetensi untuk berbuat sesuatu.
Pada prinsipnya, setiap buku pasti memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga tidak dapat memuaskan semua pembacanya. Penyajian informasi pada sebuah buku pelajaran diharapkan dapat memenuhi sebanyak mungkin aspek kegiatan proses belajar mengajar dan dapat dilakukan siswa secara mandiri.
Peran guru adalah membuat proses belajar-mengajar efektif, efisien, dan kontinu. Dalam kaitan ini, guru berperan sebagai agen informasi dan manajer dari sistem pemberdayaan siswa. Kerja sama yang harmonis antara guru dan siswa dalam kegiatan belajar akan memberikan hasil belajar yang optimal. Untuk kegiatan belajar ini tentu saja diperlukan berbagai fasilitas pendukung yang memadai sebagai katalisator proses belajar. Skenario belajar dapat dirancang bersama-sama antara guru dan siswa.
Berbagai kiat dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar ialah sebagai berikut.
• Guru mengatur kerja siswa dengan menentukan kegiatan yang dilakukan dan memberikan gambaran produk yang dihasilkan, misalnya jaringan informasi dan soal latihan.
• Guru membekali siswa dengan informasi esensial dan strategis sebagai modal awal untuk belajar.
• Siswa membaca buku dan sumber informasi lainnya untuk konfirmasi dan penajaman informasi agar siap mengerjakan tugas belajar.
• Siswa mengerjakan tugas belajar sampai menghasilkan suatu produk dengan melakukan berbagai kegiatan belajar.
• Hasil belajar siswa dijadikan bahan diskusi sebagai suatu mekanisme kontrol belajar dan umpan balik bagi proses pembelajaran.
• Berdasarkan hasil diskusi ini siswa berupaya untuk menyempurnakan produknya.
• Produk yang dihasilkan siswa dapat dituntut sampai pada bentuk what (apa informasinya), when (kapan munculnya), where (di mana munculnya), how (bagaimana menyelesaikan masalah yang terkait), why (mengapa demikian), dan who (siapa sumber atau penemunya).
Peranan Buku Pelajaran
Produk dari proses belajar dan mengajar adalah terdapatnya perubahan yang relatif permanen dari kemampuan, keterampilan sikap, dan perilaku siswa sebagai akibat dari pengalaman atau pelatihan dalam kegiatan belajar. Tuntutan perubahan beserta prosesnya inilah yang perlu ditampung dalam buku pelajaran sehingga perubahan terjadi dalam waktu yang relatif singkat sesuai dengan tuntutan jaman. Berbagai peran sentral buku pelajaran dalam memberdayakan siswa ialah sebagai berikut.
• Buku dapat ditempatkan sebagai sumber informasi serta guru sebagai agen sekaligus penjual informasi tersebut.
• Buku dapat menarik minat dan niat siswa untuk menguasai informasi dengan motivasi tinggi.
• Buku dapat berperan sebagai manajer dari kegiatan belajar siswa, dilengkapi informasi yang tingkat kesukarannya bertahap, termasuk soal latihan dan pemecahan masalah yang terkait.
• Buku dapat memenuhi tuntutan kurikulum dan memuat implementasi pesan kurikulum, bahkan dapat melebihinya.
• Buku dapat digunakan sebagai wacana untuk melatih daya nalar dan pembentukan sikap siswa dalam menghadapi perubahan dunia yang relatif cepat di era abad ke-21 ini.
• Buku dapat memuat informasi esensial dan strategis, bermanfaat sebagai alat pemecahan masalah.
• Buku dapat menyajikan informasi yang komunikatif, menarik, dan tidak membosankan.
Pemanfaatan Buku Pelajaran dan Proses Penulisannya
Buku pelajaran dapat dipandang sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan belajar yang membawa siswa sampai pada suatu kompetensi tertentu. Penumpang kendaraan ini ialah siswa, sedangkan pengemudinya ialah guru. Sebagai pengemudi, guru diharapkan dapat membawa penumpangnya sampai ke tempat tujuan dengan bergembira, nyaman, dan tidak mabok. Dalam kendaraan itu dikembangkan kesenangan belajar, perasaan, sosialitas, intelektualitas, moral, dan spiritual siswa secara optimal.
Dalam proses belajar mengajar, guru memanfaatkan buku ajar secara optimal sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan dirinya secara berjenjang, berkesinambungan, dan tanpa paksaan. Guru yang cerdik dapat memanfaatkan cara belajar berkelompok agar siswa mencapai kompetensi tertentu. Dengan buku pelajaran, guru membantu siswanya dengan berperan sebagai:
• Narasumber. Guru merupakan tempat siswa bertanya, yaitu menjelaskan visi, misi, konteks, konten, proses, sistematika, dan pengorganisasian informasi yang dikelolanya.
• Komunikator. Guru mengajarkan suatu informasi, yaitu menjelaskan dengan berbagai cara pendekatan serta memanfaatkan metode dan media yang tersedia.
• Fasilitator. Guru menyediakan fasilitas belajar siswa, yaitu menyusun berbagai program belajar tahap demi tahap dan membantu siswa belajar.
• Manajer. Guru mengatur kegiatan belajar siswa, yaitu mengatur kelompok belajar, kelas, laju informasi, diskusi, dan interaksi dalam proses belajar mengajar.
• Motivator. Guru memberi motivasi agar siswa giat belajar, yaitu memberi semangat dan menggerakkan siswa belajar.
• Pembelajar. Guru mengajarkan cara belajar pada siswanya, yaitu memberi petunjuk agar siswa belajar secara efektif, efisien, dan kontinu.
Agar buku pelajaran dapat dimanfaatkan secara optimal, marilah kita mengamati proses sebuah buku ditulis. Dalam benak pengarang buku, telah terbayang informasi yang mesti disampaikan dalam bentuk bahasa tulisan. Pengarang buku yang berkompeten tentu telah menguasai roh, jaringan, ketajaman, daya jangkau, dan pengorganisasian informasi yang akan ditulisnya. Proses menghasilkan buku yang berkualitas melalui beberapa tahap berikut.
• Membaca sumber informasi. Pengarang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dengan membaca visi, misi, konteks, konten, dan prosesnya. Dari berbagai sumber ini diperoleh gaya yang cocok bagi si Pengarang untuk mengomunikasikan tulisannya. Ia dapat memilih bertutur seperti informasi yang dibacanya atau membuat variasi dan kombinasi.
• Meringkaskan informasi informasi. Pengarang menulis informasi dalam bentuk kompak (padat dan singkat) dengan mencari bagian yang esensial, yaitu dengan cara mencari informasi penting dari buku yang dibacanya. Kegiatan ini ditujukan agar diperoleh ruang gerak untuk mensintesiskan berbagai sumber sehingga muncul suatu alur cerita baru yang orisinal.
• Merancang sistematika informasi informasi. Pengarang menyajikan informasi dengan mempertajam aspek kait-mengait antarkomponen pembentuknya. Pada prinsipnya, suatu informasi akan mempunyai komponen pembentuk dan ada kelanjutannya sehingga dapat dijelaskan untuk apa dan mengapa informasi tersebut dibentuk.
• Mengorganisasikan informasi informasi. Pengarang menata informasi dalam suatu sistem jaringan dengan mengatur aspek kait-mengait antarberbagai informasi. Pengarang berpikir bagaimana memunculkan informasi dengan bobot dan kedalaman yang sama, serasi, selaras, dan seimbang, serta memperhatikan aspek horisontal dan vertikal suatu informasi.
Setelah semua aspek tadi dimasukkan dan terbayangkan dalam benak pengarang, proses selanjutnya adalah menulis informasinya dengan bahasa yang komunikatif. Pemilihan alinea, kalimat, dan kata yang akan digunakan biasanya dibongkar-pasang dan diuji-cobakan untuk kalangan calon pembaca. Tujuannya agar diperoleh buku berkualitas yang diharapkan dan dapat memuaskan sebanyak mungkin pembacanya.
*) Staf pengajar Matematika ITB dan penulis buku Matematika.
04:51 Posted in GE MOZAIK Juni 2005 | Permalink | Comments (13) | Email this
10.06.2005
[GE MOZAIK, Juni 2005] - Dalam Penggunaan Buku Pelajaran, Guru, Siswa, dan Orang Tua Mesti Kreatif
Buku pelajaran memiliki peranan penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Penggunaan buku pelajaran yang menerapkan Kurikulum 2004 atau yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) semestinya membuat semua pihak, mulai dari guru, siswa, sampai orang tua, bersikap kreatif. Menurut Lili Nurlaili, staf teknik Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional (Balitbang Depdiknas), sebenarnya dalam KBK ini ingin menguntungkan semuanya, baik guru maupun siswa. Dari awal-awal, katanya, kita di pusat kurikulum mengatakan bahwa guru mengajar cukup dengan silabus, tidak perlu ada rencana pengajaran (RP) dan satuan pelajaran (Satpel), yang membuat guru hanya terjebak dalam administrasi. Akan tetapi, lanjutnya, ternyata di lapangan diterjemahkan lain karena ada beberapa daerah yang juga tetap melengkapi, selain silabus juga ada RP, Satpel, dan lain-lain sehingga guru terjebak lagi dengan administrasi, yang akhirnya mereka sibuk dengan urusan-urusan seperti itu. “Bagaimana mereka bisa membuat siswa menjadi kreatif, bagaimana ia mempunyai waktu mencari sumber belajar yang beragam kalau hanya menulis, mencari administrasi saja yang dituntut,” harap Lili kepada para guru, sambil menambahkan, agar guru tidak terbebani, cukup silabus saja.
Sebagaimana dikemukakan oleh Lili tadi, penggunaan KBK ini pun menguntungkan siswa. Dengan adanya KBK ini, menurutnya, siswa diberikan keleluasaan yang sebesar-besarnya untuk mengkreatifkan apa yang siswa miliki. “Jadi, tidak hanya guru sebagai sumber. Kalau di rumahnya dia punya buku yang lebih bagus, ya… bagaimana dia bawa ke sekolah untuk menjadi sumber bagi teman-temannya juga,” ungkapnya menjelaskan. Oleh karena itu, menurutnya, salah satu hal yang sangat bermanfaat di dalam KBK ini ialah setelah siswa mendiskusikan atau melakukan sesuatu, itu dipajang sebagai sumber belajar bagi teman-temannya yang lain.
Selain itu, salah satu kunci dalam pendidikan ialah orang tua. Lalu, bagaimana peran orang tua dalam proses pembelajaran, terutama menyangkut buku pelajaran yang dipakai oleh anaknya. Masih menurut Lili, sebenarnya kalau kita melihat keterlibatan orang tua sampai saat ini masih sangat kurang, terutama orang tua yang di kota, yang sibuk dengan aktivitas di kantor, sehingga terlihat sekali bahwa anak tersebut ketika kita menerapkan KBK seolah-olah itu semua tanggung jawab guru. “Padahal orang tua juga harus terlibat di dalam hal itu karena anak tersebut tidak hanya bisa dikreatifkan selama di sekolah saja,” ungkapnya. Dengan demikian, katanya, anak tidak akan bisa kreatif kalau tidak ada pemantauan secara langsung dari orang tuanya.
Menurut Lili, keterkaitan orang tua dalam hal ini sangat penting. “Apalagi kalau ia melihat dalam buku-bukunya tersebut, misalnya, ada PR yang tidak bisa dijawab, harusnya orang tua juga kreatif mencari dari buku yang lain atau pun membimbing anak mencarikan hal-hal yang lain sehingga dia merasa bahwa orang tuanya tidak sekadar memberikan uang jajan atau menyekolahkan dia, tetapi juga ikut meningkatkan kreativitas atau meningkatkan pendidikan mereka,” harapnya.
Jadi, tampaknya, dalam penggunaan buku pelajaran, semua pihak terlibat, dan oleh karenanya, baik guru, siswa, maupun orang tua mesti kreatif.
(Subiyanto/Bambang/Novan)
04:36 Posted in GE MOZAIK Juni 2005 | Permalink | Comments (0) | Email this


