« [GE MOZAIK, Juni 2005] – Pentingnya Pendidikan Kecerdasan Emosional | HomePage | [GE MOZAIK, Agustus 2005] - Guru Bantu, Untuk Menjadi PNS, Pemerintah Adakan Rekrutmen Khusus »

27.06.2005

[GE MOZAIK, Juni 2005] – Pendidikan Kecerdasan Emosional di Amerika Serikat

Dapat dikatakan bahwa pendidikan kecerdasan emosional untuk siswa SD, SMP, dan SMA di negara kita belum memadai dan seintensif di Amerika Serikat (AS). Namun, tidak ada salahnya kita melihat contoh-contoh pengajaran kemampuan kecerdasan emosional di negara tersebut.

Di dalam kelas yang mengajarkan kecerdasan emosional siswa biasanya dilatih untuk bercerita tentang pengalaman dirinya di depan kelas. Dengan bebas siswa mengekspresikan perasaannya (senang, frustrasi, atau sedih. Tujuannya ialah agar siswa dapat mengidentifikasikan perasaannya sendiri dan mengetahui pemicu dari tindakan ofensif yang ia lakukan.

Baik siswa maupun guru juga diminta untuk mendengarkan secara aktif. Guru dan siswa harus belajar untuk mendengarkan pendapat dan perasaan siswa yang bercerita di depan kelas tanpa harus menghakimi. Mereka juga belajar untuk menceritakan kembali, merangkum, menyimpulkan, dan membantu pembicara mengklarifikasi perasaannya.

Pendengar yang aktif harus selalu berusaha mengerti pendengarnya dan melatih kemampuan berempati. Pendengar yang aktif tidak hanya mengandalkan apa yang ia dengar, tetapi juga harus memperhatikan ekspresi muka dan bahasa tubuh orang yang didengarkannya. Dengan bercerita di depan kelas, siswa yang berbicara dan para pendengarnya dapat meningkatkan pengenalan diri mereka dan mengidentifikasi perasaan lawan bicaranya.

Dengan mengadakan latihan ini, baik siswa yang berbicara maupun pendengar dapat saling belajar bahwa tindakan-tindakan tertentu, seperti melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain atau mengolok-olok orang lain dapat menyakiti hati orang lain. Pengajaran komunikasi yang baik dan kemampuan berempati dapat memperbaiki hal ini.

Di New Haven Public Schools Connecticut, siswa dari tingkat SD sampai SMU mendapat pengajaran kecerdasan emosional melalui permainan. Salah satu nama permainan edukasi ini disebut dengan permainan lampu lalu lintas. Siswa kelas 1 SD diajarkan bahwa lampu merah adalah tanda untuk diam dan menenangkan diri jika mereka mendapat masalah, lampu kuning untuk memikirkan masalah dan menyusun rencana pemecahan masalah, dan lampu hijau untuk melakukan pelaksanaan rencana pemecahan masalah. Permainan ini juga tetap dilakukan sampai mereka di tingkat SMP.

Di AS sendiri, pengajaran kecerdasan emosional juga mengajarkan bagaimana menghadapi tekanan dari teman sebaya, bagaimana menghadapi perasaan marah, belajar tentang tindakan dan konsekuensinya. Siswa juga diajak untuk menulis bagaimana mereka menghadapi tindakan kekerasan dari siswa lainnya, bagaimana cara bekerja sama dengan orang lain, dan topik-topik lainnya yang berhubungan dengan dunia mereka sehari-hari.

Program-program tersebut menunjukkan hasil bahwa siswa akhirnya mempunyai kemampuan untuk tidak menjadi destruktif dan menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah mereka. Mereka juga menjadi kurang tertarik untuk menggunakan obat-obatan, minum-minuman alkohol, dan mengikuti pergaulan bebas. Sebaliknya mereka menjadi lebih kooperatif, optimis, mempunyai empati, dan lebih positif memandang masa depan.

Dalam proses belajar mengajar siswa yang mempunyai kecerdasan emosional mampu menyelesaikan permasalahan, rasa frustrasi mereka, berkonsentrasi, dan bekerja sama, baik dengan siswa yang lain maupun dengan guru.

Nah, bagaimana dengan kita? Apakah kurikulum kita sudah menunjang pendidikan kecerdasan emosional siswa yang kita didik? Apa yang dapat kita lakukan untuk mendidik anak didik kita agar mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi?

(Dameria)

04:55 Posted in GE MOZAIK Juni 2005 | Permalink | Email this

Comments

Waduh gimana mau mengajar kecerdasan emosional, di sini gurunya banyak yang belum bisa mengendalikan emosinya sendiri. Sulit mengajar empati kalau siswa melihat teladan di sekelilingnya (masyarakat umum, pejabat publik, mungkin termasuk gurunya sendiri) sangat kurang atau bahkan sama sekali tidak memiliki dan tidak pernah menunjukkan empati. Tapi ya kita harus mulai. AS bisa maju mungkin bukan karena manusianya paling pintar (kalau ini di Indo banyak orang jenius) atau fisiknya paling sehat dan kuat atau paling kaya dst.. tapi mungkin karena manusianya punya karakter yang kokoh berkat pendidikan yang utuh meliputi semua aspek termasuk emosional. Semoga kita bisa dan mau belajar dari mereka.

Posted by: Marvin | 04.07.2005

LERNING BIOLOGY PLEACE HAPPY OR ENJOI PLEACE TEACHER AND STUDENT SO ENJOY. PLACE STUDY BIOLOGY THAN REALITY OKE?

Posted by: SUTRIYAT | 18.05.2006

Menghadapi masa serba sulit, guru harus bisa menempatkan diri, kalau tidak akan bermasalah, tapi disisi lain tidak ada yang pernah memikirkan bagaimana nasib guru di masyarakat, mereka bisa menghidupi keluarganya dengan layak atau tidak siapa peduli, sementara guru selalu memikirkan bagaimana anak didik (anak orang lain) bisa berbudi pekerti baik menguasai ilmu pengetahuan. Ini sampai kapan nasib guru GTT, apa betul kata orang "HABIS MANIS SEPAH DIBUANG?" itulah kenyataan nasib seorang guru GTT di negeri atau di swasta. Tolong kasih jalan keluarnya Yaaaaa? atau mari kita pikirkan bersama dengan guru GTT lain oke?

Posted by: SUTRIYAT | 18.05.2006

Post a comment