« [GE MOZAIK, Juni 2005] – Pentingnya Buku Pelajaran dalam Proses Pembelajaran | HomePage | [GE MOZAIK, Juni 2005] – Pentingnya Pendidikan Kecerdasan Emosional »
22.06.2005
[GE MOZAIK, Juni 2005] – Profil Emalia Iragiliati Sukarni : Guru Harus Kreatif
Emalia, yang biasa disapa akrab dengan nama Mimil, adalah seorang wanita yang sangat tekun dan ulet dalam belajar. Ini terbukti, dengan berhasil diraihnya gelar Doktor dalam bidang Linguistik pada tahun 2005, di usianya yang ke-52 tahun. Menurutnya, sejak usia 14 tahun, beliau ditinggal wafat oleh ibunya. Tidak lama berselang, tepatnya ketika berumur 17 tahun, beliau pun harus merasakan penderitaan serupa, ditinggal wafat oleh ayahnya. Karenanya, segala kebutuhan hidupnya seharihari mulai dari SMA hingga beliau menikah dibiayai oleh teman almarhum ayah dan ibunya. “People may change, but God will never change,” ungkapnya berfilosofi.
Diungkapkan Mimil, ada beberapa faktor yang menjadikan dirinya menjadi seorang pengajar, antara lain: pertama, beliau selalu teringat pesan kedua orang tuanya yang selalu mendukung penuh untuk menjadikan dirinya seorang pendidik ketika dewasa kelak. Kedua, beliau senang dengan menjadi seorang pengajar sehingga dapat membuat buku pelajaran Bahasa Inggris (tingkat SD, SMP, SMA, Diploma, dan Universitas, red) maka jangkauan pengaruh akan sampai pada seluruh daerah di Indonesia dan turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Ketiga, beliau akan sangat bangga dapat menjadi orang yang berguna bagi orang lain dengan mencerdaskan kehidupan bangsanya yang sesuai dengan ajaran agama. Keempat, beliau suka mengajar sesuatu yang dikaitkan dengan kegunaannya di kehidupan nyata sehingga siswa merasa tidak membuang-buang waktu dan tenaganya.
Beliau sangat menyukai profesinya menjadi seorang pendidik karena dengan menjadi seorang pendidik seseorang dapat mengetahui secara langsung perkembangan peserta didiknya dari waktu ke waktu. “Pengalaman saya sebagai seorang pengajar adalah sangat menyenangkan. Kita dapat melihat perkembangan seorang murid dari waktu ke waktu. Dari seorang murid yang tidak mengetahui apa yang akan didapat di kelas, dapat menyerap pelajaran, dan mengaplikasikan dalam kehidupan nyata. Apalagi jika murid tersebut sudah jadi ‘orang’ (sukses, red) dan masih mengenali kita sebagai salah satu pengajarnya,“ ungkapnya. “I would be very happy and touched with those kinds of beautiful incidents,” beliau menambahkan.
Emilia, yang di kalangan murid-muridnya dikenal sebagai seorang pengajar yang cepat dalam mencapai target belajar, sangat takut apabila muridnya kelak tidak dapat menghadapi kenyataan hidup setelah lulus. Alasan itulah yang menyebabkan beliau harus mengajar dengan cepat untuk mencapai target yang telah ditentukan. “Saya memang terkenal kalau mengajar terlalu cepat dan terlalu menuntut siswa dalam arti beban SKS hanya dua, tetapi tugasnya sama dengan pelajaran yang enam SKS,” ujarnya menirukan komentar murid-muridnya, sambil menambahkan, “Akan tetapi, setelah dapat melewati ‘ospek’ tersebut, maka manfaatnya akan terasa sewaktu masuk lapangan kerja di kehidupan nyata.”
“Memang saya sadar kalau agak keras karena saya takut anak-anak didik saya tidak akan mampu menghadapi kenyataan hidup yang sangat beragam. Misalnya, kalau dididik menjadi sarjana bahasa Inggris maka dapat saja bekerja sebagai presenter atau guide untuk olahraga arung jeram,” ujarnya.
Beliau mengungkapkan bahwa menjadi seorang pengajar tidaklah mudah karena ada beberapa kendala yang harus dihadapi oleh para pengajar pada saat mengajar. Namun demikian, menurutnya, dengan adanya kerja sama yang baik antara siswa, pengajar, orang tua, dan masyarakat, kendala tersebut akan mudah untuk diatasi. Kendala yang dihadapi oleh para pengajar pada umumnya, antara lain: (1) pelajaran yang akan diberikan selalu berubah dan jumlahnya banyak, mengikuti perkembangan ilmu; (2) kemampuan IQ siswa, cultural background (suka membaca atau tidak) , socio-economical factor (tersedianya sarana pendidikan yang lengkap) , dan daya serap pengetahuan berbeda satu dengan lainnya. Hal-hal tersebut juga dipengaruhi dengan adanya faktor orang tua yang mengikuti perkembangan mental maupun fisik
anak didik atau tidak. Jadi, menurutnya, dengan adanya kendala-kendala tersebut beban pengajar semakin berat bilamana tidak ada kerja sama yang baik antara siswa, pengajar, orang tua, serta masyarakat, dalam hal ini adalah sekolah.
Menurutnya, guru harus menjadi seorang yang kreatif di dalam Kegiatan Belajar Mengajar. “Ijinkanlah kreativitas anak untuk berkembang dan jadilah seorang guru yang kreatif dengan keadaan yang ada serta kegiatan selalu dikaitkan dengan kehidupan nyata. Sebagai contoh dalam kelas Speaking V, anak-anak menjadi seorang story teller dan membuat media dengan spidol warna yang ada bagi anak-anak SD, intonasi suara yang menarik dan games dilakukan. Lalu, berubah menjadi presenter TV terkenal dengan menggunakan mike dan tape sehingga persis seperti acara di TV, termasuk cara duduk serta intonasi suara. Setelah itu menjadi paper presenter di seminar memakai OHP yang ada dan mike. Dengan demikian, anak tersebut telah berganti peran dari guru Inggris SD, presenter TV serta paper presenter di seminar internasional. Kalau di lingkungan SD maka anak-anak SD juga dapat dididik menjadi orang-orang dengan pekerjaan tersebut dalam lingkup kreativitas anak. “Selamat bekerja dan mengembangkan kreativitas anda serta anak didik anda,” sarannya kepada para pengajar.
Nama Dr. Emalia Iragiliati Sukarni, M. Pd.
Tempat dan tanggal lahir Yogyakarta, 2 April 1953
Alamat Jl. Puncak Dieng LL2/12, Malang.
Pekerjaan
- Kepala Laboratorium Bahasa Universitas Negeri Malang
- Dosen Jurusan Inggris, Universitas Negeri Malang
Riwayat Pendidikan
- SD Sacred Heart School, China; dan SD Lematang, Jakarta (1965)
- SMP Santa Ursula, Jakarta (1968)
- SMA Santa Ursula, Jakarta (1971)
- Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Jurusan Arsitek (1972-1974)
- Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jurusan Inggris (1974-1976)
- IKIP Malang, Jurusan Inggris (S1) 1985
- IKIP Malang, Jurusan Linguistik Terapan (S2) 1991
- IKIP Malang (Universitas Malang), Jurusan Linguistik Pragmatik Terapan (S3) 1998-2005
Pengalaman
- Guru SD Trinata Malang pada Tahun 1976
- Konsultan Bahasa
- Penulis Buku Umum dan Pelajaran Bahasa Inggris untuk jenjang SD, SMP, SMA, Diploma, dan Universitas
(H. Herdiansyah A.)
09:20 Posted in GE MOZAIK Juni 2005 | Permalink | Email this
Comments
I feel respectable to enjoy a story about Dr.Emalia Iragiliati Sukarni M.Pd. I appreciate her and admiring her,including her statement and opinion about the Teacher must creative every time in a long life in the World. I hope that the God always blessing her and redeem her and her family every time Congratulations Dr.Emalia. Thank You.
August 13,2005.
Most Sincerely,
Aloysius Haryono. a Lecturer from Department of Mathematics and Natural ScienceEducation,
at Sanata Dharma University,
c/o :
Campus III,
Paingan,Maguwoharjo,Depok,Sleman,55284,
Daerah Istimewa Jogjakarta,Indonesia.
Posted by: Drs.Aloysius Haryono | 13.08.2005
Mrs, can you help me how to teach speaking subject for university students especially in the first and second semester
thank
Dandin Hamka IMB
Jakarta
Posted by: Dandin Hamka IMB | 12.10.2005

