« [GE MOZAIK, Mei 2005] – Kiat Memilih Buku Bermutu | HomePage | [GE MOZAIK, Juni 2005] - Peranan Buku dalam Proses Belajar Mengajar »

10.06.2005

[GE MOZAIK, Juni 2005] - Dalam Penggunaan Buku Pelajaran, Guru, Siswa, dan Orang Tua Mesti Kreatif

Buku pelajaran memiliki peranan penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Penggunaan buku pelajaran yang menerapkan Kurikulum 2004 atau yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) semestinya membuat semua pihak, mulai dari guru, siswa, sampai orang tua, bersikap kreatif. Menurut Lili Nurlaili, staf teknik Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional (Balitbang Depdiknas), sebenarnya dalam KBK ini ingin menguntungkan semuanya, baik guru maupun siswa. Dari awal-awal, katanya, kita di pusat kurikulum mengatakan bahwa guru mengajar cukup dengan silabus, tidak perlu ada rencana pengajaran (RP) dan satuan pelajaran (Satpel), yang membuat guru hanya terjebak dalam administrasi. Akan tetapi, lanjutnya, ternyata di lapangan diterjemahkan lain karena ada beberapa daerah yang juga tetap melengkapi, selain silabus juga ada RP, Satpel, dan lain-lain sehingga guru terjebak lagi dengan administrasi, yang akhirnya mereka sibuk dengan urusan-urusan seperti itu. “Bagaimana mereka bisa membuat siswa menjadi kreatif, bagaimana ia mempunyai waktu mencari sumber belajar yang beragam kalau hanya menulis, mencari administrasi saja yang dituntut,” harap Lili kepada para guru, sambil menambahkan, agar guru tidak terbebani, cukup silabus saja.

Sebagaimana dikemukakan oleh Lili tadi, penggunaan KBK ini pun menguntungkan siswa. Dengan adanya KBK ini, menurutnya, siswa diberikan keleluasaan yang sebesar-besarnya untuk mengkreatifkan apa yang siswa miliki. “Jadi, tidak hanya guru sebagai sumber. Kalau di rumahnya dia punya buku yang lebih bagus, ya… bagaimana dia bawa ke sekolah untuk menjadi sumber bagi teman-temannya juga,” ungkapnya menjelaskan. Oleh karena itu, menurutnya, salah satu hal yang sangat bermanfaat di dalam KBK ini ialah setelah siswa mendiskusikan atau melakukan sesuatu, itu dipajang sebagai sumber belajar bagi teman-temannya yang lain.

Selain itu, salah satu kunci dalam pendidikan ialah orang tua. Lalu, bagaimana peran orang tua dalam proses pembelajaran, terutama menyangkut buku pelajaran yang dipakai oleh anaknya. Masih menurut Lili, sebenarnya kalau kita melihat keterlibatan orang tua sampai saat ini masih sangat kurang, terutama orang tua yang di kota, yang sibuk dengan aktivitas di kantor, sehingga terlihat sekali bahwa anak tersebut ketika kita menerapkan KBK seolah-olah itu semua tanggung jawab guru. “Padahal orang tua juga harus terlibat di dalam hal itu karena anak tersebut tidak hanya bisa dikreatifkan selama di sekolah saja,” ungkapnya. Dengan demikian, katanya, anak tidak akan bisa kreatif kalau tidak ada pemantauan secara langsung dari orang tuanya.

Menurut Lili, keterkaitan orang tua dalam hal ini sangat penting. “Apalagi kalau ia melihat dalam buku-bukunya tersebut, misalnya, ada PR yang tidak bisa dijawab, harusnya orang tua juga kreatif mencari dari buku yang lain atau pun membimbing anak mencarikan hal-hal yang lain sehingga dia merasa bahwa orang tuanya tidak sekadar memberikan uang jajan atau menyekolahkan dia, tetapi juga ikut meningkatkan kreativitas atau meningkatkan pendidikan mereka,” harapnya.

Jadi, tampaknya, dalam penggunaan buku pelajaran, semua pihak terlibat, dan oleh karenanya, baik guru, siswa, maupun orang tua mesti kreatif.

(Subiyanto/Bambang/Novan)

04:36 Posted in GE MOZAIK Juni 2005 | Permalink | Email this

Post a comment