« [GE MOZAIK, Mei 2005] – Kurikulum 2004 (KBK) dan Harapan Para Guru | HomePage | [GE MOZAIK, Mei 2005] – Bagaimana Mengajar Matematika yang Benar »

23.05.2005

[GE MOZAIK, Mei 2005] – Profil Sunarto : Guru Harus Jadikan Dirinya sebagai Contoh

Bencana alam yang terjadi di tanah air kita akhir-akhir ini, antara lain di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Leuwigajah, kota Cimahi, Jawa Barat, telah mengingatkan kembali kehidupan Sunarto pada masa kecil. Beliau yang merasa dibesarkan dan hidup dekat dengan alam menganggap bahwa terjadinya bencana di TPA Leuwigajah itu sebagai rasa tidak adanya kepedulian masyarakat terhadap alam. “Saya khawatir, jangan-jangan sekarang itu kemurkaan Allah juga gara-gara orang tidak peduli dengan alam. Seperti di Bandung (TPA Leuwigajah, red), longsor kok sampai tidak ketahuan. Karena mereka memang tidak dekat dengan alam,” ungkapnya.

Beliau menyadari bahwa ternyata sekarang ini kepedulian orang kepada alam itu menjadi kurang. Keinginannya dalam dunia pendidikan ialah agar sejak kecil orang-orang berkembang secara alami karena memang kehidupannya dekat dengan alam. “Bagaimana kalau ada tumbuhan seperti ini, memeliharanya seperti apa, menumbuhkannya harus seperti apa, sehingga ketika ada perubahan alam, baik itu makhluk hidup maupun makhluk tak hidup, dia sudah tahu, sudah bisa memprediksi,” ujarnya.

Sunarto, yang dilahirkan di Kuningan, 17 Maret 1955 itu, memang hidup dan dibesarkan di lingkungan keluarga petani. Karenanya, tidak heran apabila beliau dekat dengan alam. “Saya di kampung, kemudian saya dibesarkan di lingkungan orang tua petani, jadi saya dulu lebih dekat dengan alam,” ujarnya. Menurutnya, dengan alam seperti tanaman, pertanian, juga dengan hewan, dari situ dirinya jadi hobi dengan ilmu pengetahuan alam karena dari kecil memang dibesarkan di lingkungan itu.

Profesinya saat ini sebagai guru tampaknya sudah direncanakan sebelumnya. Sejak kecil, beliau memang berniat untuk menjadi guru karena ketika masih bersekolah, yang paling menjadi idolanya justru seorang guru. Pada masa itu, menurutnya, guru merupakan orang yang paling dihormati oleh semua lapisan masyarakat. “Saya melihat bahwa guru itu, waktu itu, orang yang paling dihormati oleh semua lapisan, sehingga saya mengatakan, enak jadi guru,” ungkapnya.

Beliau membandingkan bahwa berbeda dengan sekarang, guru pada waktu itu sangat dihormati dan menempati posisi di kalangan masyarakat, dalam posisi yang cukup mendapat penghargaan. Akan tetapi, menurutnya, sekarang pun guru masih seperti itu, dihormati, tinggal kembali lagi tergantung pada penampilannya. Beliau memberikan alasan mengapa guru pada waktu itu dihormati, karena melihatnya bahwa guru itu segala-galanya. “Kita melihat, guru itu segala-galanya. Ya perilakunya, ya tutur katanya, ya pakaiannya. Pokoknya segala-galanya,” katanya menjelaskan.

Mengenai profesi guru yang lebih mendapatkan penghargaan dari masyarakat itu, beliau teringat kembali dengan guru agamanya. Beliau mengenang, ketika gurunya berperilaku, bertutur kata, berpakaian, bertanggung jawab, dan bagaimana kehidupannya di masyarakat. Jadi, bagaimana guru itu menjadi teladan, bukan hanya mengajar. “Kalau saya seperti itu, saya senang sekali,” kenangnya.

Sementara sekarang ini, terutama di perkotaan, beliau melihat bahwa guru tidak lagi menjadi teladan, keseluruhan, tetapi mungkin hanya sekadar ketika di kelas menyampaikan cukup lama materi pelajaran dan setelah itu kemudian ditinggalkan sehingga anak tidak melihat apa yang dikatakan oleh gurunya itu, apakah gurunya juga melaksanakan seperti itu. Dengan demikian, keteladanan sangat kurang. Guru yang pandai mengajar sekarang banyak, tetapi guru jarang sekali yang menjadikan dirinya contoh, sebagai teladan. “Guru yang bisa beri contoh banyak, tapi guru yang jadikan dirinya sebagai contoh sangat jarang,” ujarnya.

BIODATA

Nama Sunarto

Tempat dan tanggal lahir Kuningan, 17 Maret 1955

Pekerjaan Guru

Riwayat pendidikan

  • SD 1967

  • SLTP (PGA) 1970

  • SLTA (SPG) 1973

  • Perguruan Tinggi: Diploma II PGSD, Akta Mengajar IV, dan Strata I Administrasi Negara 1991

  • Pengalaman
  • Diklat instruktur IPA di P3G (Pusat Pengembangan pelatihan guru) di Bandung.

  • Diklat pemandu bidang studi melalui proyek peningkatan mutu IPA melalui SEQIP (Science Education Quality Improvement Project Project).

  • Korwil SEQIP untuk provinsi DKI Jakarta.

  • Tim pengembang kurikulum IPA Pendidikan Dasar DKI Jakarta.

  • (Novan/Herdiansyah)

    09:30 Posted in GE MOZAIK Mei 2005 | Permalink | Email this

    Post a comment